Samarinda, Busam.ID – Duka mendalam menyelimuti pemakaman Suimih (35) di Jalan Sentosa, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, Senin (23/3/2026) siang. Isak tangis keluarga mengiringi prosesi peristirahatan terakhir korban yang sebelumnya ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di kawasan Gunung Pelanduk.
Pemakaman yang berlangsung sekitar pukul 13.10 Wita itu dipenuhi suasana haru. Keluarga dan warga sekitar tak kuasa menahan tangis saat jenazah Suimih diturunkan ke liang lahat, menandai akhir dari tragedi memilukan yang mengguncang warga Samarinda.
Tangis paling pilu datang dari ibu angkat korban, Asmuriyani. Perempuan itu mengaku sangat terpukul atas kepergian anak yang telah ia rawat selama 13 tahun tersebut.
Dengan suara bergetar, ia mengenang sosok Suimih yang selama ini dikenal sebagai anak yang baik dan penurut. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ia merasakan adanya perubahan sikap pada diri korban.
“Dulu anaknya baik, polos, tidak pernah membantah orang tua. Tapi akhir-akhir ini berubah, jadi keras, seperti membangkang,” ujarnya lirih.
Asmuriyani menduga perubahan itu terjadi setelah Suimih menjalani pernikahan siri dengan pria berinisial J, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.
Kabar kematian tragis itu pun menjadi pukulan berat bagi dirinya. Ia mengaku sempat tak percaya saat pertama kali menerima informasi dari pihak kepolisian.
“Saya kaget, tidak menyangka. Anak angkat saya sudah tidak ada,” ucapnya, sembari menahan tangis.
Di tengah duka yang mendalam, Asmuriyani berharap keadilan ditegakkan setegas-tegasnya. Ia meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya atas perbuatan yang telah merenggut nyawa anak angkatnya.
“Saya minta dihukum seberat-beratnya, kalau perlu hukuman mati. Saya rawat dia 13 tahun,” tegasnya.
Kasus ini sendiri masih terus bergulir dan menjadi perhatian publik, mengingat kekerasan yang dialami korban memicu rasa duka sekaligus kemarahan warga. (zul)
Editor: M Khaidir


