Dari Stigma Beli Kucing dalam Karung sampai Hilangkan Bias Gender

BusamID
Menaker - Ida Fauziyah. Foto : Istimewa

Diskusi Hari Perempuan Sedunia Menakertrans-FJPI

Busam,ID – Pada awalnya, lantaran stereotype kebanyakan masyarakat Indonesia menempatkan perempuan hanya pada urusan domestik rumahtangga yakni kamar, dapur dan anak. Kini perempuan punya peluang berkiprah lebih luas pada dunia yang dulunya dianggap maskulin ; ruang kebijakan publik dan politik. Dengan kiprah luas perempuan di ruang kebijakan publik dan politik itu, diharapkan dunia kerja yang selalu mendulukan laki-laki dibanding perempuan, perlahan dapat mengikis bias gender yang merugikan kaum hawa itu.

Wacana itu terungkap dalam diskusi peringatan Hari Perempuan Sedunia Sabtu (05/03/22) yang dilakukan secara virtual, antara Menakertrans Ida Fauziyah dengan Ketua FJPI Uni Lubis . Diskusi virtual itu juga diikuti pengurus cabang FJPI di 14 provinsi.

“Saya ikut terlibat proses pembuatan UU Parpol yang pertama, menginisasi afirmasi pada kepengurusan partai politik 30 persen harus perempuan, perumusannya di tahun 2003-2004 kemudian segera diberlakukan tahun 2004. Pada waktu itu teman-teman laki-laki suka mengatakan, dipaksa oleh UU (untuk menerima kuota 30 persen perempuan). Dalam bahasa mereka itu kayak ngambil kucing dalam karung,” ungkap Ida.

Menurut politisi PKB ini, sebenarnya ruang partisipasi politik untuk perempuan saat ini terbuka luas. Sejak adanya UU Parpol dan UU Pemilu, yang memberikan afirmasi kepada perempuan, sebenarnya ruang partisipasi politik untuk kaum hawa itu sudah sangat terbuka.

Sejak perumusan UU Parpol yang mengafirmasi keterlibatan perempuan dalam politik minimal 30 persen diberlakukan pada 2004, perempuan mulai didorong berbenah. Meski awalnya diakui tidak siap, pada akhirnya dalam semua sektor, perempuan harus menghadapi kompetisi setara dengan kaum adam, dalam upaya menghilangkan bias gender di lingkup kerja. Selain demi kesetaraan kesempatan, menghilangkan bias gender di lingkup kerja juga berimplikasi meminimalisir stigma negatif tentang perempuan.

“Kalau dulu lulusan perguruan tinggi perempuan cenderung memilih jadi PNS. Jarang sekali teman-teman perempuan lulusan PT dulu memilih menjadi seorang politisi. Itu sebagai alternatif terakhir. Sekarang tidak, teman-teman bisa lihat, bahkan mahasiswa perempuan saja sudah melihat politik bagian dari cara mengekpresikan diri. Lihat saja sekarang profil politisi perempuan kita saat ini, stoknya sudah sangat banyak dengan bermacam background. Menurut saya tidak kalah dengan politisi laki-laki. Jadi saya melihat bahwa persiapan itu dari kondisi sosial politik kita yang sudah semakin baik, juga pendidikan masyarakat sudah semakin baik, kemudian budaya patriarki semakin berkurang. Jadi menurut saya ini modal bagi kita untuk terus mengurangi bias di banyak hal, karena dengan memperbanyak perempuan yang ada di tempat-tempat publik , pada tempat-tempat pengambil kebijakan, maka saya yakin kebijakan yang bias gender itu bisa kita hindari,” papar Ida. (an)

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *