Samarinda, Busam.ID – Tidak terasa, 8 tahun sudah sosok seorang Misman (64 tahun) memimpin GMSS-SKM (Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus).
Di tahun ke-8, ia berhasil menjadi satu dari sekian nominator Penghargaan Kalpataru 2023. Sebagaimana diketahui, Kalpataru merupakan bentuk apresiasi tertinggi yang diberikan pemerintah kepada individu atau kelompok masyarakat yang berjasa dalam melindungi dan menyelamatkan lingkungan hidup. Istilah Kalpataru sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yaitu Kalpavriksha yang berarti pohon kehidupan.
Tepat pada Selasa, (2/5/23), Misman dikunjungi Penyuluh Lingkungan Hidup dari KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) sehubungan penetapan dirinya sebagaii nominator Penghargaan Kalpataru oleh Pemerintah Kota Samarinda melalui DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kota Samarinda.

Saat itu, Misman hanya berpenampilan sederhana seperti biasanya, menggunakan baju kaos polo ditutupi oleh jaket parasut hitam, topi dan juga sebuah tas ransel.
Faktor umur yang sudah menginjak 64 tahun sangat terlihat di raut wajah Misman, namun ia masih tetap tersenyum dengan ria saat perwakilan KLHK datang ke Posko Pungut Sampah GMSS-SKM yang berlokasi di Jalan Abdul Muthalib.
Tampak hadir beberapa jajaran Pemerintah Kota Samarinda, DPRD Kota Samarinda dan juga perwakilan mahasiswa pecinta alam.
Perlu diketahui, kunjungan KLHK kali ini dalam rangka validasi akhir di lapangan untuk melengkapi data dan informasi terkait kegiatan dan penajaman analisa jenis kegiatan, lokasi dan dampak kegiatan nominator.

Misman sendiri masuk sebagai nominator dalam kategori Perintis Lingkungan, di samping tiga kategori lainnya ialah Pengabdi Lingkungan, Penyelamat Lingkungan dan Pembina Lingkungan.
Kegiatan validasi berlangsung dengan cara menyusuri Sungai Karang Mumus menuju Sekolah Sungai yang ia bangun di Muang Ilir, Lempake, Samarinda Utara.
Beruntung, cuaca cukup cerah kendati sedikit waspada lantaran air sungai sedang pasang dan kondisi air berarus deras membuat semua yang ikut menyusuri sungai bersiagam.
Tim Busam.ID sendiri mengikuti kegiatan susur sungai tersebut menggunakan Speed Boat yang disediakan oleh DLH Samarinda.

Perjalanan berlangsung hingga 1 jam lamanya. Saat menyusuri sungai, terlihat dari kapal berbeda yang ditumpangi oleh Perwakilan KLHK yakni Emi Mardiati sebagai Verifikator dan juga Penyuluh Lingkungan Hidup dari KLHK serta Misman berjalan pelan sembari melihat keseluruhan kondisi Sungai Karang Mumus. Nampak sekali Emi sangat menikmati perjalanan tersebut dengan mengobrol intens bersama Misman.
Sesampainya di titik stop Sekolah Sungai, tampak beberapa siswa SDN 02 Sungai Pinang dan juga SMPN 10 Samarinda sudah hadir dengan rapi di sekolah tersebut.

Tidak seperti sekolah formal pada umumnya, Sekolah Sungai lebih terlihat seperti gubuk sederhana dihiasi oleh beberapa Banner Edukasi Lingkungan. Namun suasananya yang asri membuat para siswa yang hadir sangat antusias berada di sekolah tersebut.
Para pecinta lingkungan dari kumpulan mahasiswa/i turut bergembira sembari memberikan edukasi kepada para siswa/i tersebut. Terlempar beberapa tanya jawab terkait lingkungan dan juga hal lainnya.
Terlihat senyum sumringah yang ditampakkan oleh Emi menyaksikan pemandangan tersebut. Menurutnya hal tersebut sangat luar biasa lantaran ide Sekolah Sungai tersebut berasal dari seorang Misman, yang sudah konsisten 8 tahun menggeluti aktivitis lingkungan.
“Saya sudah beberapa kali mengunjungi Kota Samarinda dan Balikpapan untuk wilayah Kaltim, sungai di Samarinda ini kan cukup padat karena kondisinya memang dikelilingi oleh pemukiman. Beda dengan dahulu, dulu sangat banyak sampah bahkan tidak bisa dilewati, namun saat selesai susur sungai tadi Alhamdulillah, sungai bersih walaupun mungkin masih ada beberapa sedikit sampah yang masih terlihat dan itu idenya tercetus dari Pak Misman,” ungkap Emi kepada Busam.ID.
Ditanya tentang validasi yang dilakukan, Emi mengatakan terdapat beberapa indikator yang akan ditentukan oleh para Dewan di Pemerintahan Pusat untuk menentukan pemenang Kalpataru 2023.
“Ada beberapa indikator yang saya ketahui ya, atas apa yang dilakukan oleh Pak Misman ini nantinya akan dicek seperti Dampak Lingkungannya, Ekonominya dan Sosial Budayanya nanti itu dicek keseluruhan oleh para Dewan yang terdiri dari beberapa Profesor dan juga para Ahli Lingkungan,” paparnya.
Ditanya hasil validasi pada hari ini, Emi mengakui apa yang diusulkan oleh Pemkot Samarinda mengusulkan Misman sebagai nominator Kalpataru 2023 sudah sesuai.
“Alhamdulillah, hasil validasinya sudah sesuai dengan yang diusulkan oleh pihak Pemkot, tinggal nanti Dewan yang menentukan hasilnya,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Misman juga turut memberikan komentarnya terkait validasi tersebut.
Mengakui tidak berharap untuk memenangkan penghargaan tersebut, Misman mengaku hanya fokus pada bagaimana menjadi sosok aktivis lingkungan yang dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas.
Baginya yang sudah menjalani kegiatan aktivis lingkungan selama 8 tahun, menang atau tidaknya penghargaan tersebut tidak menjadi prioritasnya melainkan ia menjalaninya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap SKM.

“Dapat ga dapat penghargaan itu saya gak terlalu mikir. Kenapa saya konsisten membersihkan SKM, karena memang SKM ini kan sumber air masyarakat kita di Samarinda, Selain itu, jika dalam sisi agama, jika Islam meyakini Surga itu mengalir air di bawahnya, Kota Samarinda itu mengalir sungai di tengahnya, itu Surga. Namun masyarakat kita yang tidak bertanggung jawab membuat sungai itu menjadi Neraka. Kenapa? Karena segala macam jenis sampah itu ada di sungai, dan itu posisi di 8 tahun yang silam. Namun sekarang sudah tidak seperti itu lagi,” ucap Misman.
Ditanya perihal Sekolah Sungai yang ia bangun, menurut Misman sekolah tersebut menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin mengetahui edukasi terkait lingkungan khususnya perairan sungai.
“Maksud sekolah itu kan tempat belajar ya, jadi orang yang datang ke sini bisa sebagai guru maupun murid. Jika yang datang itu Profesor, maka kita akan mendatangkan orang yang mau belajar terkait lingkungan. Jika yang datang orang yang tidak berpengetahuan tentang lingkungan, maka kami akan menjadi guru. Kurang lebih seperti itu ya,” paparnya.
Selain itu, ia mengakui hingga saat ini masih terbilang jarang bantuan dari Pemerintah untuk Sekolah Sungai tersebut secara formal lantaran prosesnya yang ribet.
“Jika dari Pemerintah secara resmi tidak ada, karena ribet ya harus ada alokasi anggaran, jika tidak ada maka Pemerintah nanti akan menyalahi aturan. Namun dari teman kita beberapa yang duduk di Pemerintahan ada. Entah itu buat seng, buat kayu dan lain-lain. Selain itu ada juga sumbangan dari pengusaha dan juga anggota komunitas,” ucapnya.
Ia pun memberikan closing statement kepada Busam.ID sekaligus sebagai imbauan untuk masyarakat.
“Pesannya gini, kalau membangun alam ini jangan hanya untuk kepentingan manusia, tapi pikirkan juga hidup makhluk lainnya yang berhak hidup di dunia ini, jadi kita harus berbagi. Jangan mengambil yang bukan seharusnya,” tegasnya.
Siapa Misman?
Misman lahir pada tahun 1959, di Kota Samarinda. Sebelumnya, diketahui ia juga menggeluti bidang pertelevisian yaitu TVRI sebagai penyusun naskah telenovela di TVRI.
Hal tersebut berlanjut saat ia mendirikan sebuah tabloid bernama Warta Harmoni pada tahun 2000. Ia pun memiliki sertifikasi Dewan Pers sebagai Wartawan Madya pada tahun 2012 dan cukup aktif di organisasi PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kaltim.
Perihal pendidikan, ia mengakui tidak memiliki gelar sarjana apa pun meski beberapa kali telah menempuh pendidikan di beberapa fakultas, ia mengatakan dirinya hanya karena ingin mengetahui apa yang dipelajari oleh para mahasiswa/i saat itu.
Jalannya sebagai aktivitas SKM juga tidak mulus. Ia mengakui pernah dicemooh oleh masyarakat sebagai orang “tidak waras” lantaran dianggap sering pamer dan cari perhatian dengan melakukan hal tersebut.
Namun bentuk komentar negatif yang didapat, terbilang sangat sedikit dibandingkan dengan masyarakat yang mendukungnya.
Konsistensi yang ia lakukan hingga saat ini merupakan salah satu bukti bahwa dirinya benar-benar mencintai SKM.
Bahkan beberapa penghargaan telah ia raih juga sebelumnya seperti pada tahun 2016 silam, Walikota Samarinda memberikan penghargaan untuk dirinya sebagai penggiat Lingkungan yang Literat.
Kemudian pada tahun 2017, ia bersama GMSS-SKM meraih penghargaan Komunitas Peduli Sungai Kaltim dari Gubernur Kaltim. Di tahun yang sama ia meraih juara III nasional Lomba Komunitas Peduli Sungai Indonesia.
Lanjut pada pada tahun 2018, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menganugerahinya penghargaan peringkat ke-2 nasional sebagai Komunitas Peduli Sungai Indonesia.
“Saya mendedikasikan hidup untuk menjaga SKM. Tidak perlu hitung-hitungan atau mungkin berharap gaji. Menjaga sungai bisa melibatkan siapa saja dan sangat banyak caranya. Bisa dengan cara menanam pohon ataupun memungut sampah. Kalau SKM rusak, yang rugi seluruh masyarakat di Kota Samarinda,” tutupnya. (RYAN)
Editor : Risa Busam,ID








