FJPI Angkat Spirit Rohana Koeddoes, Dorong Pers yang Aman dan Berkeadilan Gender

Busam ID
grafis by IDN TIMES dan TW

Samarinda, Busam.ID – Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) mengangkat kembali spirit perjuangan Rohana Koeddoes sebagai pijakan untuk mendorong terciptanya pers yang aman dan berkeadilan gender. Nilai tersebut mengemuka dalam diskusi 3 Wajah Rohana Koeddoes yang digelar IDN Times bersama Yayasan Amai Setia dan FJPI dalam rangka Road to Hari Pers Nasional (HPN), Jumat (6/2/2026).

Ketua FJPI Khairiah Lubis menegaskan, Rohana Koeddoes bukan sekadar figur sejarah pers Indonesia, melainkan simbol keberanian dan kesadaran gender dalam jurnalisme. Sejak aktif menulis pada 1912, Rohana telah menempatkan pers sebagai alat perjuangan sosial dan pendidikan perempuan, termasuk melalui Koran Perempuan Bergerak di Medan.

“Rohana adalah spirit bagi jurnalis perempuan. Perjuangannya membuat kita hari ini tidak memulai dari nol, tetapi melanjutkan fondasi yang sudah ia bangun dengan keberanian,” ujar Khairiah.

Menurutnya, kuatnya akar jurnalisme perempuan di Sumatra Barat dan Sumatra Utara menjadi warisan penting yang menginspirasi berdirinya FJPI pada 2007. Kini, FJPI menghimpun jurnalis perempuan dari Aceh hingga Papua dengan agenda utama memperjuangkan kesetaraan, profesionalisme, dan keselamatan kerja.

Khairiah menekankan, tantangan jurnalis perempuan saat ini tidak hanya menyangkut kualitas karya jurnalistik, tetapi juga keamanan dan keselamatan di lapangan. Kekerasan, intimidasi, hingga pelecehan seksual masih menjadi ancaman nyata dalam praktik jurnalistik.

“Pers yang bebas harus dimulai dari pers yang aman. Karena itu FJPI menyusun SOP penanganan kekerasan seksual terhadap jurnalis perempuan sebagai bentuk perlindungan dan solidaritas,” tegasnya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Majalah Femina, Petty Fatimah, menilai perjuangan jurnalis perempuan kerap menuntut kerja lebih keras. Namun, ia melihat pengalaman Rohana Koeddoes sebagai bukti bahwa kerja keras tersebut memiliki dampak jangka panjang bagi perubahan sosial.

“Tidak apa-apa bekerja lebih keras, hasilnya pasti sepadan. Kekuatan Rohana ada pada kemampuannya mengelaborasi gagasan dan membangun kolaborasi,” kata Petty.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menambahkan, dalam konteks pers modern, ukuran utama profesionalisme tidak lagi ditentukan oleh gender, melainkan kapasitas dan pengetahuan.

“Yang menentukan hari ini bukan laki-laki atau perempuan, tetapi kualitas pengetahuannya. Banyak perempuan Indonesia yang menempati posisi strategis karena kapasitas tersebut,” ujarnya.

Melalui diskusi ini, FJPI menegaskan komitmennya untuk merawat warisan sejarah pers perempuan sekaligus memperjuangkan ekosistem media yang aman, setara, dan berkeadilan gender—sebagaimana spirit yang telah diwariskan Rohana Koeddoes lebih dari satu abad lalu. (uca)
Editor : TW

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *