Samarinda, Busam.ID – Pemkot Samarinda mengakui masih ada kendala dalam upaya mengentaskan kemiskinan ekstrem melalui program pelatihan kerja. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah minimnya tindaklanjut setelah peserta menyelesaikan pelatihan tersebut.
“Ketika mereka habis pelatihan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) atau Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker), habis pelatihan kerja apa, di mana? Maka kita bikin kolaborasi sekarang ini dan kita perkuat UMKM,” ucap Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, selama ini berbagai pelatihan keterampilan telah diberikan kepada masyarakat, mulai dari menjahit hingga keterampilan jasa lainnya. Namun, banyak peserta yang tidak memiliki akses pekerjaan, modal, maupun tempat usaha setelah pelatihan selesai.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab warga miskin ekstrem sulit keluar dari lingkaran kemiskinan meski telah mengikuti program peningkatan keterampilan. “Kalau hanya diberikan bantuan, bantuan itu tidak akan melepaskan dia dari status miskin ekstrem. Yang bersangkutan harus bekerja,” ujarnya.
Ia mengatakan untuk mengatasi persoalan itu, Pemkot Samarinda menyiapkan skema kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah. Setelah pelatihan selesai, peserta akan diarahkan untuk membuka usaha maupun memasuki dunia kerja. Pemkot juga menyiapkan pemanfaatan ruang-ruang kosong di sejumlah pasar sebagai lokasi usaha bagi peserta yang memilih berwirausaha.
Beberapa lokasi yang disebutkan antara lain area lantai dua Pasar Sungai Dama dan Pasar Kedondong yang dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Posisi kita sekarang ini bukan hanya memberikan pelatihan. Misalnya kursus menjahit, lalu apa yang dilakukan setelah menjahit. Harusnya bahannya kita siapkan, pangsa pasarnya juga disiapkan supaya jalan,” tuturnya. (uca)
Editor: M Khaidir


