Balikpapan, Busam.ID – Rencana pemerintah memutuskan untuk kembali menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) untuk rokok sebesar 10 persen mulai tahun tahun 2023 mendatang, berpotensi memicu terjadi peningkatan inflasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan R. Bambang Setyo Pambudi mengatakan, di tahun 2023, ada beberapa faktor yang diperkirakan masih akan memberikan tekanan inflasi.
Diantaranya adalah adanya perubahan iklim yang disampaikan oleh BMKG yang dapat mengganggu hasil produksi dan distribusi komoditas pertanian.
“Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat nelayan kesulitan untuk melaut yang berakibat tangkapan komoditas ikan laut menurun,” kata Bambang kepada wartawan, Jumat (2/12/22).
Selain itu, faktor lain yang akan memicu kenaikan inflasi adalah kebijakan pemerintah terkait penetapan kenaikan cukai di tahun 2023, serta potensi kenaikan harga di beberapa komoditas menjelang Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN).
Dalam rangka mengendalikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menyelenggarakan kegiatan capacity building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) untuk mendorong peran Perumda dalam manajemen stok bahan pokok.
Kegiatan ini merupakan hasil tindak lanjut dari High Level Meeting TPID serta merupakan rangkaian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang bertujuan mendorong peran Perumda sebagai buffer stock, khususnya untuk ketersediaan bahan pangan. Selain itu himbauan belanja bijak kepada masyarakat senantiasa disampaikan sebagai bagian dari komunikasi yang efektif. Beberapa upaya tersebut diwujudkan dalam rangka menjaga stabilitas harga dan penguatan koordinasi dengan kebijakan Pemerintah Daerah guna menjaga inflasi sesuai kisaran target rentang kendali.
Ia menambahkan pada bulan November 2022, Kota Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,04 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Oktober yang mengalami inflasi sebesar 0,09 persen (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan tercatat sebesar 6,07 persen (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional (5,42 persen yoy) dan inflasi Kalimantan Timur (5,83 persen yoy). Inflasi tahunan Kota Balikpapan tersebut berada di atas rentang target inflasi nasional sebesar 3,00 persen±1.
Inflasi pada November 2022 didorong oleh kenaikan harga ikan layang/ikan bonggol di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga nelayan kesulitan untuk melaut.
Selain itu, komoditas tomat menjadi penyumbang inflasi di bulan November sejalan dengan keterbatasan stok di tengah permintaan yang tinggi. Inflasi juga disumbang oleh komoditas batu bata akibat permintaan yang tinggi.
Komoditas emas perhiasan juga menyumbang inflasi sejalan dengan kenaikan harga emas dunia di tengah isu ketidakpastian global.
Selain itu, terjadi kenaikan pada komoditas rokok kretek filter seiring kebijakan pemerintah terhadap kenaikan cukai di 2023.
Di sisi lain, komoditas cabai rawit, bayam, dan minyak goreng mengalami deflasi yang disebabkan oleh pasokan yang terus terjaga di pasar. Penurunan harga juga terjadi pada tarif angkutan udara seiring dengan ketersediaan dan jadwal penerbangan yang semakin banyak, serta penurunan harga semen akibat adanya koreksi harga komoditas batu bara. (man)
Editor: Redaksi BusamID


