SAMARINDA, Busam.ID – Suasana haru dan isak tangis keluarga tak terbendung saat jenazah Rafa Al Waris (14) dan Sahal Amri (14) tiba di rumah duka. 2 bocah pelajar salah satu madrasah si Samarinda tersebut menjadi korban jiwa dalam insiden tenggelam di perairan Sungai Mahakam, kawasan Teluk Lerong, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda.
Kedua korban sebelumnya sempat dilaporkan hilang selama kurang lebih 36 jam sejak Kamis sore (5/11/2026). Operasi pencarian intensif yang dilakukan oleh tim SAR gabungan akhirnya membuahkan hasil pada Sabtu (7/11/2026) dini hari, di mana kedua remaja malang itu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa tidak jauh dari titik awal mereka dilaporkan tenggelam.
Koordinator Pos SAR Samarinda, Aries Setiawan, menjelaskan bahwa proses penemuan berlangsung cepat di tengah siaga malam petugas. Korban pertama berhasil dievakuasi pada pukul 02.20 WITA, disusul korban kedua berselang lima menit kemudian pada pukul 02.25 WITA. Jarak penemuan hanya terpaut sekitar 10 meter dari lokasi awal korban dilaporkan hilang di area bebatuan tepian sungai.
“Saat ditemukan, sebagian personel tengah beristirahat, namun tim tetap siaga melakukan pemantauan. Setelah dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda untuk penanganan medis lanjutan sebelum diserahkan kepada pihak keluarga,” ujar Aries.
Peristiwa nahas ini bermula pada Kamis sekitar pukul 16.45 WITA. Berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi, Ikhsan, kedua korban awalnya terlihat berdiri di atas bebatuan tepian Sungai Mahakam di sekitar kawasan Cafe Teluk Lerong dengan kondisi debit air yang tampak dangkal setinggi kaki.
Namun, situasi berubah drastis dalam hitungan detik. Salah satu anak tiba-tiba terlihat kesulitan menguasai diri di dalam air. Dari kejauhan, saksi sempat melihat kepala dan tangan korban muncul ke permukaan serta melambaikan tangan seolah meminta pertolongan. Petugas parkir setempat yang menyadari situasi darurat langsung mendatangi lokasi, namun kedua korban sudah keburu tenggelam. Laporan kemudian diteruskan ke Pamapta Samarinda hingga akhirnya ditindaklanjuti oleh Basarnas dan unsur SAR gabungan.
Tragedi berulang di kawasan tepian Sungai Mahakam ini memicu desakan keras dari berbagai pihak agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Kawasan komersial dan ruang publik yang berbatasan langsung dengan sungai dinilai memerlukan standar pengamanan yang lebih ketat.
Aries Setiawan secara tegas meminta agar pemerintah setempat memasang safety barrier atau pagar pengaman guna membatasi akses masyarakat, khususnya anak-anak, langsung ke bibir sungai yang rawan. Selain itu, pemasangan papan peringatan bahaya dinilai krusial sebagai langkah mitigasi dini.
“Harapannya ke depan ada pagar pembatas minimal di titik-titik rawan tersebut, serta papan pengumuman sebagai imbauan visual bagi pengunjung agar tidak bermain terlalu dekat dengan air,” ungkapnya.
Kejadian ini meninggalkan duka mendalam bagi dunia pendidikan di Samarinda, khususnya sivitas akademika MTs Darul Ihsan. Pihak sekolah mengenang kedua almarhum sebagai anak-anak yang baik dan aktif dalam kegiatan sehari-hari.
Di sisi lain, insiden ini menjadi alarm keras bagi para orang tua. Tim SAR mengingatkan bahwa kemampuan anak untuk berenang sama sekali bukan jaminan keselamatan di sungai besar berarus deras seperti Sungai Mahakam. Faktor kelelahan, pusaran air bawah permukaan, licinnya bebatuan, serta minimnya pengawasan dapat berakibat fatal dalam hitungan detik.
Pengawasan ketat dari orang dewasa dan kepedulian lingkungan sekitar kini menjadi kunci utama agar insiden serupa tidak kembali merenggut nyawa anak-anak di masa mendatang. (Zul)
Editor: M Khaidir


