Samarinda, Busam.ID – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, meminta persoalan antrean BBM bersubsidi di sejumlah SPBU tidak langsung disimpulkan sebagai dampak kekurangan kuota. Menurutnya, tata kelola distribusi juga harus diperiksa untuk menemukan akar persoalan.
Ia menilai antrean yang berlangsung terus-menerus hingga berbulan-bulan, bahkan hampir sepanjang tahun, perlu menjadi bahan evaluasi serius. Kondisi tersebut dinilai tidak cukup dijelaskan hanya dengan alasan keterbatasan kuota BBM.
“Jangan mudah menyimpulkan bahwa ini kita kekurangan kuota. Kita juga jangan buru-buru mencari cara yang justru tidak menyelesaikan masalah akarnya,” kata Andi Harun.
Menurutnya, kekurangan kuota memang bisa menjadi salah satu faktor penyebab antrean. Namun, hal itu belum tentu menjadi satu-satunya persoalan yang harus ditangani.
“Kalau selama ini dikatakan langka atau kekurangan kuota, mungkin ya. Tapi apakah itu menjadi penyebab tunggal? Saya kira tidak,” ujarnya.
Andi Harun menegaskan, persoalan tata kelola distribusi perlu mendapat perhatian lebih. Terlebih, jika antrean kendaraan di SPBU terjadi dalam waktu lama dan terus berulang hingga mengganggu arus lalu lintas.
Ia mencontohkan, antrean selama beberapa hari hingga dua minggu mungkin masih dapat dipahami sebagai gangguan sementara. Namun, apabila kondisi tersebut terus berlangsung dari Januari hingga Januari berikutnya, maka perlu ditelusuri penyebabnya.
“Tapi kalau sampai dari Januari ke Januari setahun SPBU tersebut antre di situ, apa teman-teman wakil menganggap itu situasi normal?” tegasnya.
Karena itu, ia meminta persoalan antrean BBM dibedah secara menyeluruh, bukan sekadar mencari solusi dengan menambah kuota penyaluran.
Evaluasi, lanjutnya, perlu melibatkan Pemerintah Kota Samarinda, DPRD, Pertamina, Pertamina Patra Niaga, serta pengelola SPBU.
Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi persoalan distribusi di lapangan, termasuk kemungkinan adanya penyaluran yang tidak tepat sasaran maupun praktik pengisian BBM secara berulang.
Dengan begitu, penanganan antrean BBM bersubsidi dapat menyasar akar persoalan dan tidak hanya menjadi solusi sementara yang kembali berulang.(Adit/adv)
Editor: M Khaidir


