Samarinda, Busam.ID – Sebanyak 224 koleksi busana dari 28 desainer meramaikan Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026 di Odah Etam, Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda, pada 3–4 Oktober 2026. Festival perdana ini menjadi ruang bagi desainer, artisan, pelaku UMKM, dan generasi muda untuk memperkenalkan karya berbasis budaya Kalimantan.
Peragaan busana selama dua hari tersebut melibatkan 36 model dengan beragam koleksi yang mengangkat wastra, kriya, serta identitas lokal. Rangkaian fashion show dibagi menjadi tiga sesi, yakni satu sesi pada Sabtu (3/10/2026) dan dua sesi pada Minggu (4/10/2026).
Pada sesi pembukaan, sejumlah koleksi ditampilkan, di antaranya Batik Melayu Kutai, Karai, Ida Syachruni, Nurm Collection, Ekraf Kutai Kartanegara x Made by Gia, Dekranasda Kalimantan Timur, Pandawi Wastra Borneo, Laxmee x Halita Moda, Pihar Design Collection, DS Entertainment, Yenne Hakim, Nusantara by Arien x Black Ink, hingga Zahira.
Sementara pada Minggu, Parade 1 menghadirkan SMK Negeri 14 Samarinda, SMK Negeri 1 Sangatta Utara, Ishana Bali, CC Modelling, SMK Negeri 4 Balikpapan, SMK Negeri 3 Samarinda, serta Dekranasda Kalimantan Timur.
Adapun Parade 2 menampilkan Javabor, Kekéan Wastra Gallery, The Rafftykha, Batik Beras Basah, Rizal Fashion Style, Dekranasda Kutai Timur, Aemtobe, dan Pandawi Wastra Borneo.
Founder BIFF 2026, Yulia Hadi, mengatakan festival tersebut berangkat dari keyakinan bahwa kekayaan budaya dan karya kreatif dari Kalimantan memiliki peluang untuk dikenal lebih luas, termasuk di pasar internasional.
Menurutnya, gagasan BIFF tumbuh dari perjalanan Pandawi, sebuah brand yang dibangun dengan mengangkat budaya dan karya lokal Borneo.
Pengalaman mengembangkan produk sekaligus membuka akses pasar Australia memperlihatkan besarnya potensi yang dimiliki pelaku kreatif di Kalimantan Timur.
“BIFF berawal dari sebuah perjalanan sederhana dan satu keyakinan, bahwa apa yang kita miliki di Borneo layak untuk dilihat oleh dunia,” kata Yulia saat pembukaan BIFF 2026.
Ia menilai, potensi tersebut tidak hanya berada di tangan desainer, tetapi juga artisan, pelaku UMKM, serta generasi muda yang menghasilkan karya dengan ciri khas budaya daerah.
“Kita sudah memiliki karya dan cerita yang luar biasa. Mereka memiliki talenta, mereka memiliki cerita, yang mereka butuhkan adalah akses dan kesempatan,” ujarnya.
Karena itu, BIFF tidak hanya dirancang sebagai panggung peragaan busana. Festival ini juga menghadirkan UMKM Expo, pagelaran wastra, pertunjukan budaya, business matching, serta fashion talk.
Yulia menilai, pertemuan antara pelaku usaha dan calon mitra bisnis menjadi bagian penting untuk membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Melalui kegiatan business matching, produk lokal diharapkan dapat bertemu dengan pembeli maupun mitra yang tepat.
“Bagaimana karya lokal bisa berkembang, bertemu dengan pembeli dan mitra yang tepat, dan suatu hari dikenal di pasar global,” katanya.
Ia menegaskan, upaya menembus pasar internasional tidak harus membuat pelaku industri meninggalkan identitas budaya yang menjadi dasar karya mereka.
“Menjadi global bukan berarti meninggalkan identitas kita. Identitas adalah kekuatan kita,” tegasnya.
Melalui BIFF, Yulia ingin membangun koneksi antara Indonesia dan Australia, artisan dengan desainer, serta UMKM dengan calon pembeli. Budaya lokal diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dikembangkan menjadi peluang ekonomi kreatif.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, sponsor, desainer, media, pelaku UMKM, artisan, model, relawan, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan festival perdana tersebut.
Yulia berharap BIFF dapat tumbuh menjadi wadah berkelanjutan yang mempertemukan kekayaan budaya Kalimantan dengan peluang bisnis dan pasar internasional.
“Hari ini kami tidak hanya membuka sebuah festival fashion, tetapi juga membuka jembatan dari lokal menuju global, dari warisan budaya menuju masa depan,” pungkasnya.(Adit)
Editor: M Khaidir


