Efek Domino Perang Timur Tengah: Ketika Sentimen Global Menekan Pasar Modal Indonesia Oleh Juni Tristanto Laksana Putra, S.AB., M.AB. (Dosen Prodi Administrasi Bisnis, FISIP Unmul Samarinda)

Busam ID
Juni Tristanto Laksana Putra, S.AB., M.AB. (by DOK pribadi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki babak yang lebih serius. Konflik terbuka antara Amerika Serikat-Israel vs Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu gejolak besar pada pasar energi dan pasar keuangan global.

Pasar ekuitas global menutup pekan kedua Maret dengan rapor merah menyusul meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Berdasarkan data penutupan pasar pada Jumat (13/3), indeks S&P 500 di Wall Street tergelincir 0,61% ke level 6.632,19, menandai koreksi mingguan ketiga berturut-turut.

Pelemahan ini dipicu oleh kepanikan investor terhadap potensi disrupsi pasokan energi global di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi bahkan terkoreksi lebih dalam sebesar 0,93% ke posisi 22.105,36, seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi yang dapat memicu kebijakan moneter ketat lebih lama.

Kondisi serupa merembet ke pasar Asia, di mana indeks Nikkei 225 Jepang mencatatkan penurunan tajam sebesar 1,16% atau merosot 633 poin ke level 53.819,61. Sebagai negara importir energi bersih, Jepang menjadi salah satu pasar yang paling rentan terhadap volatilitas harga komoditas. Data dari Federal Reserve Bank of St. Louis (FRED) menunjukkan bahwa Nikkei telah kehilangan sekitar 8,5% nilainya hanya dalam kurun waktu dua minggu sejak eskalasi militer memanas di akhir Februari. Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent melonjak 9,22% menyentuh level psikologis USD 100,46 per barel, menciptakan tekanan inflasi baru yang mengancam pemulihan ekonomi global di tengah target stabilisasi CPI Amerika Serikat yang berada di kisaran 2%.

Sentimen “Risk-Off” ini memaksa investor melakukan rotasi besar-besaran dari aset berisiko menuju aset aman (safe haven). Para praktisi pasar modal kini memfokuskan perhatian pada durasi konflik, di mana risiko stagflasi menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi makro global di sisa kuartal pertama tahun 2026 ini.

Tekanan sentimen global akibat eskalasi konflik geopolitik juga tercermin jelas pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, IHSG tercatat anjlok 224,9 poin atau turun 3,05 persen ke level 7.137,21, dengan seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia bergerak di zona merah.

Penurunan ini bahkan menjadikan IHSG sebagai salah satu bursa saham dengan kinerja terlemah di kawasan Asia pada hari tersebut. Jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, tekanan pasar juga terlihat secara mingguan. Dalam periode 9–13 Maret 2026, IHSG tercatat melemah 5,91 persen, turun dari 7.585,68 pada pekan sebelumnya menjadi 7.137,21. Seiring dengan penurunan indeks tersebut, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga menyusut sekitar 6,96 persen menjadi Rp12.678 triliun.

Koreksi tajam ini mencerminkan perubahan sikap investor global yang cenderung bersikap risk-off di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi. Dalam situasi seperti ini, investor internasional biasanya melakukan portfolio rebalancing dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang dan mengalihkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS, obligasi pemerintah AS, atau emas.

Saya melihat bahwa dinamika geopolitik seperti ini memang selalu menciptakan volatilitas jangka pendek. Namun sejarah pasar keuangan menunjukkan bahwa volatilitas juga sering menghadirkan peluang investasi bagi investor yang mampu membaca siklus pasar dengan lebih objektif.
Dalam banyak kasus, penurunan pasar akibat sentimen global sering kali bersifat sementara dan lebih dipicu oleh faktor psikologis dibandingkan perubahan fundamental ekonomi domestik.

Indonesia sendiri masih memiliki sejumlah faktor penopang yang relatif kuat, mulai dari stabilitas sistem perbankan, pertumbuhan konsumsi domestik, hingga basis investor domestik yang semakin besar dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, eskalasi konflik global seharusnya tidak hanya dilihat sebagai ancaman bagi pasar modal Indonesia, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya ketahanan struktur pasar keuangan nasional. Di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks, ketahanan pasar modal Indonesia menjadi faktor kunci untuk meredam dampak gejolak eksternal.

Penguatan basis investor domestic dan stabilitas kebijakan makroekonomi menjadi elemen penting agar pasar tidak terlalu rentan terhadap arus modal jangka pendek. Konflik geopolitik mungkin berada ribuan kilometer dari Indonesia, namun dampaknya dapat dengan cepat terasa di layar perdagangan Bursa Efek Indonesia.

Inilah realitas ekonomi global saat ini, perang di satu kawasan dapat menggerakkan sentimen investor di seluruh dunia. Dalam konteks tersebut, eskalasi konflik Timur Tengah bukan hanya cerita tentang geopolitik, tetapi juga tentang bagaimana pasar keuangan global bekerja, sebuah sistem yang sangat sensitif terhadap risiko, sentimen, dan ekspektasi masa depan. Dan bagi pasar modal Indonesia, memahami dinamika ini menjadi kunci agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menemukan peluang di tengah gejolak global. (*)

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *