Samarinda, Busam.ID – Tingkat pengangguran terbuka di Samarinda masih berada di angka 5,75 persen 2025, dengan kelompok usia 15-24 tahun sebagai penyumbang terbesar. Di tengah kondisi itu, pembangunan Pasar Pagi modern dinilai bisa menjadi ruang serapan tenaga kerja baru, khususnya bagi generasi muda.
Kabid Penempatan dan Perluasan Tenaga Kerja Disnaker Samarinda, Waode Rosliani, mengatakan pasar tidak boleh hanya dipandang sebagai fasilitas fisik, tetapi juga sebagai ekosistem kerja yang harus diisi oleh tenaga terampil.
“Kalau hanya bangun pasarnya, tapi SDM-nya tidak disiapkan, bisa sepi. Kita tidak ingin Pasar Pagi bernasib seperti Tanah Abang,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).
Menurut Waode, dominasi pengangguran di usia muda justru menjadi peluang jika diarahkan dengan tepat. Generasi Z dinilai memiliki keunggulan dalam teknologi dan pemasaran digital, yang sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas jual beli di pasar modern.
Disnaker pun berencana menjadi wadah pelatihan berbasis vokasi, seperti digital marketing, pengelolaan konten, hingga editing video, agar pencari kerja bisa terserap sebagai tenaga pendukung pedagang Pasar Pagi, bukan hanya sebagai penjual konvensional.
“Bisa bekerja di toko, membantu pemasaran online, atau menjadi admin penjualan. Itu semua membuka lapangan kerja baru,” jelasnya.
Ia menilai, dengan pola kerja yang fleksibel dan berbasis kemitraan, Pasar Pagi berpotensi menyerap tenaga kerja muda tanpa harus bergantung pada sektor formal seperti PNS atau industri tambang yang persaingannya semakin ketat. “Kalau pasar hidup, pedagang bergerak, tenaga kerja terserap. Ekonomi ikut bergerak,” tutupnya. (uca)
Editor: M Khaidir


