Inovasi Kompor Berbahan Oli Bekas

Busam ID
Purwono saat merakit kompor berbahan bakar oli bekas, saat ditemui di kediamannya di Jalan M Yamin, Samarinda, beberapa waktu lalu. Foto by Zulkarnain

Kelangkaan gas yang kerap melanda Samarinda mendorong Purwono, untuk berinovasi. Invoasi dari Pembina Pramuka berusia 41 tahun ini dari pengalaman pribadinya yang kesulitan mencari gas setahun yang lalu. Dan akhirnya ia pun berhasil menciptakan kompor berbahan bakar oli bekas. Kini kompornya itu bisa menjadi solusi mandiri bagi dirinya dan mulai diminati Masyarakat lainnya.

“Tahun lalu kami kesulitan mencari gas. Kebetulan ada teman yang menyarankan sebuah ide bagus, dan saya juga punya perlengkapan. Saya coba praktikkan sendiri di rumah, alhamdulillah bisa berfungsi dengan baik,” ujar Purwono.

Inovasi kompor memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat dan sering dianggap limbah yakni bahan utamanya adalah oli bekas atau minyak jelantah yang sudah tidak terpakai. Untuk pemicu apinya, ia menggunakan kapas, tisu, atau sumbu kompor.

Purwono menambahkan, masyarakat Samarinda saat ini pun masih merasakan sulitnya mencari gas. “Saya rasakan masyarakat Samarinda susah untuk mencari gas, bahkan keliling-keliling. Padahal kita di Kaltim ini kan tempatnya gas, kenapa sampai kosong? Ini menjadi pertanyaan besar bagi kami masyarakat Samarinda,” tanyanya.

Bahan baku Kompor buatan Purwono menggunakan bahan-bahan sederhana seperti besi kotak, besi siku, atau pipa bekas yang bisa didapatkan di loakan. “Tidak harus baru, kita mencari di loakan juga ada. Bahan-bahannya sangat mudah didapat,” katanya.

Sistem kerja kompor cukup unik. Terdiri dari sebuah blower, kompor dinyalakan dengan kapas atau tisu sebagai pemicu. Setelah api menyala dan kompor agak panas sekitar lima menit, blower dihidupkan. “Blower itu yang memicu sehingga apinya akan besar dan membiru sedikit. Panasnya sangat luar biasa dan kita merebus ataupun masak juga cepat,” ungkapnya.

Untuk satu kali pemakaian, kompor hanya memerlukan sekitar empat sendok makan oli bekas, yang bahkan bisa digunakan untuk dua kali memasak jika masakan tidak terlalu banyak.
Saat ini, Purwono masih dalam tahap pengembangan dan belum mematok harga jual secara pasti. Namun, ia memperkirakan harga kompor tanpa blower sekitar Rp250.000, sementara blower-nya sendiri sekitar Rp400.000.

“Ini saya masih coba, untuk harga mungkin standar sekitar Rp250.000, itu belum termasuk blower-nya,” tuturnya.
Ia mengaku telah membuat 3 unit kompor, di mana 1 unit ia gunakan sendiri dan 2 unit lainnya diberikan kepada teman-teman yang membutuhkan. “Untuk diproduksi banyak belum sih, hanya saya membantu teman dulu yang memerlukan,” ujarnya.

Sejak tahun lalu hingga saat ini, Purwono mengaku tidak ada kendala berarti dalam penggunaan kompor oli bekas buatannya. “Alhamdulillah enggak ada kendala, lancar-lancar saja,” tegasnya.
Di luar inovasinya menciptakan kompor, Purwono juga dikenal sebagai individu yang berdedikasi. Ia adalah seorang pembina Pramuka di sekolahnya dan telah mendampingi anak didiknya meraih prestasi hingga kancah internasional, seperti Jambore Dunia di Jepang dan Korea. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kerja Daerah (DKD) Pramuka Kalimantan Timur. Selain itu, ia juga memiliki sertifikasi dalam menyelam.

Saat ini, Purwono berencana untuk terus memproduksi kompor oli bekas ini, terutama untuk membantu keluarga dan teman-teman yang membutuhkan. (zul)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *