Andi Harun : Kami Perlu Dukungan Semua Pihak
Samarinda, Busam.ID – Keluhan dunia usaha kecil dan menengah ihwal ketersediaan lokasi atau spot berjualan dan memajang aneka produknya, ternyata ditanggapi serius pemangku kebijakan daerah ini. Walikota Samarinda Andi Harun, dalam Workshop Pengembangan Kabupaten/Kota (KaTa) Kreatif 2021 garapan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Swissbell Hotel Borneo Selasa (30/11/21), mengungkapkan rencana pihaknya untuk merenovasi kembali tampilan Citra Niaga sebagaimana tujuan awal pendiriannya.
Pusat perbelanjaan yang pernah meraih penghargaan Aga Khan Award itu, awalnya didirikan sebagai kawasan sentra ekonomi Samarinda yang mengakomodir semua pelaku usaha, dari pengusaha sampai pedagang kaki lima. Alhasil, Citra niaga dulu sempat menjadi tujuan wisata belanja, sebagai pusat perbelanjaan souvenir serta oleh-oleh bagi masyarakat dan pendatang.

Tanggapan Andi harun itu disampaikan menjawab keluhan salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Tepian. Fitri pemilik produk UMKM Banana Coklat Tumpeh-tumpeh, mengeluhkan sulitnya mendapatkan lokasi berjualan yang terjangkau dari segi pembiayaan serta dikenali sebagai lokasi perbelanjaan khusus souvenir dan oleh-oleh.
Fitri lalu menjelaskan, jika produk UMKM-nya awal peluncurannya dimulai dari media sosial instagram sejak 5 tahun lalu. Sudah memiliki follower 15 ribuan, Fitri mengatakan saat ini pemasaran pihaknya terkendala tempat memajang produk yang berbiaya (sewa) tinggi.

“Banana Cokelat Tumpeh-tumpeh ini berawal dari Instagram dulunya. Awal memasarkan, kami mulai dari medos instagram. Hingga sekarang memiliki follower 15rb-an. Kami juga bekerja sama dengan beberapa merchant agar lebih mudah melayani pesanan. Nah, berbicara tentang wisata kuliner ini, seringnya terkendala di masalah tempat atau lokasi berjualan. Udah susah cari tempatnya, harga sewanya tinggi pula. Usaha mikro kecil dan menengah pun sulit menjangkaunya. Dari itu, kami pelaku UMKM meminta, apakah mungkin pihak Kemenparekraf bersama dinas-dinas terkait, membuat salah satu tempat khusus di Kota Samarinda bagi pelaku usaha UMKM dengan biaya sewa yang murah dan terjangkau?”, tanya Fitri di hadapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.
Ditanya demikian, Sandi kemudian melimpahkan tanggungjawab menjawab pada Walikota Samarinda Andi Harun yang turut hadir dalam acara tersebut.
“Baik Mas Menteri. Saat ini Pemerintah Kota Samarinda sedang merencanakan Reinkarnasi Kawasan Citra Niaga, di mana kawasan tersebut juga merupakan bangunan arsitektur yang pernah mendapatkan penghargaan Aga Khan Award hingga menjadi salah satu ikonik Kota Samarinda. Saya harap semua pihak harus bersinergi terutama Pemerintah Daerah dan semua Stake Holder yang terkait, agar dapat menghidupkan kembali Citra Niaga sebagai lokasi wisata belanja souvenir dan oleh-oleh yang ramah bagi semua, baik pedagang maupun pengunjungnya. Dengan kembalinya Citra Niaga seperti dulu, akan menumbuh kembangkan semua sektor ekonomi lebih baik ke depannya,” papar Andi Harun.
Secara terpisah Andi Harun mengungkapkan, jika rencana reinkarnasi kawasan wisata belanja souvenir dan oleh-oleh Citra Niaga itu, sudah menjadi komitmen pihaknya sejak sebelum terpilih.
Bersama pasangan Pilkada-nya Rusmadi Wongso, Andi Harun membuat komitmen untuk menghidupkan lagi Citra Niaga sehingga dapat memberikan kemanfaatan yang luas bagi dunia usaha terutama kelas mikro kecil dan menengah, di samping menjadi salah satu ikon Kota Samarinda yang dibanggakan.
Sekedar kilas balik, Citra Niaga awalnya bernama Taman Hiburan Gelora. Berdiri di atas lahan 2,7 hektar tepat di jantung Kota Samarinda, kawasan ini menjadi tempat berkumpul masyarakat. Sayangnya tempat ini terlihat kumuh, bahkan dimanfaatkan sebagai lokasi prostitusi liar.

Pada tahun 1986, Pemerintah Kota Samarinda mengubah fungsi lokasi dan bangunan yang ada di kawasan Taman Hiburan Gelora tersebut. Walikota Samarinda saat itu Waris Husain, mencanangkan taman itu menjadi pusat perdagangan Citra Niaga.
Proyek pembangunan Pusat Perdagangan Citra Niaga memakan waktu selama tiga tahun, menelan biaya sekitar Rp 8 miliar. Konsep awal pembangunan Kawasan Citra Niaga adalah untuk mengakomodir pelaku ekonomi dalam satu kawasan.
Para pedagang kecil menempati kios-kios dan Pedagang Kaki Lima (PKL) menempati lapak-lapak di sekitar kawasan itu. Proyek pembangunan Citra Niaga pada akhirnya menjadi proyek percontohan nasional pembangunan sektor informal pada tahun 1989.
Sebagai proyek percontohan, Kawasan Citra Niaga mendapatkan penghargaan prestisius yang diberikan setiap 3 tahun sekali sejak 1976, oleh The Honour Aga Khan yang berkedudukan di Jenewa, Swiss.
Kawasan Citra Niaga mendapat penghargaan, karena tidak hanya memenuhi kepentingan ekonomi dan sosial. Melainkan, keindahan bangunan, pengelolaan yang mencerminkan demokrasi karena melibatkan para pedagang kaki lima melalui koperasi, pengelola toko kelontong, pemerintah dan pengusaha.
Untuk diketahui, Aga Khan Award diberikan kepada karya-karya profesional di bidang arsitektur yang bernafaskan budaya Islam dan konsepsi bangunan yang identik dengan kebutuhan penduduk muslim, melalui penyajian arsitektur yang menarik. (ryan/an)


