TAK banyak pejabat perempuan yang mampu menapaki karir birokrasi dari bawah hingga ke pucuk pimpinan dengan tetap menjaga integritas, profesionalisme, dan sentuhan humanis. Nama itu tertuju pada Hj. Syarifah Alawiyah, S.Sos., M.Si., atau akrab disapa Yuyun.
Perempuan kelahiran Samarinda, 8 Agustus 1971 itu kini menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setdaprov Kalimantan Timur (Kaltim). Di balik posisi strategisnya, tersimpan perjalanan panjang dan dedikasi tinggi sejak awal karirnya di tahun 1990 sebagai staf pelaksana di Bagian Protokol.
Dikenal sebagai protokoler andal, nama Yuyun telah malang melintang mengatur tata acara keprotokolan. Tak sedikit yang mengenalnya sebagai pembawa acara utama dalam berbagai event nasional, termasuk saat pembukaan dan penutupan PON XVII 2008 di Stadion Palaran Samarinda.
“Saya belajar dari panggung-panggung kecil, lalu tumbuh bersama tanggung jawab yang lebih besar,” ucapnya Yuyun saat diwawancarai.
Selama lebih dari 3 dekade, Ibu 4 anak ini telah melalui berbagai posisi strategis. Mulai dari Kasubag Tata Usaha di Biro Humas dan Protokol, Kasubag TU di Biro Umum, Kasubag Kerjasama hingga Kabag Protokol. Sejak 2022 ia dipercaya memimpin Biro Adpim, jabatan yang menggabungkan kemampuan koordinasi, komunikasi, dan manajerial tingkat tinggi.
“Biro ini bukan hanya urusan materi komunikasi pimpinan, protokol dan perencanaan kepegawaian Setda, tapi ini soal citra, koordinasi lintas lembaga, dan menjaga etika kelembagaan,” terangnya.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai inovasi digulirkan. Salah satunya adalah “Gerai Pinter” (Gerakan Pelayanan Pimpinan Terpadu) yang menyasar ke masyarakat, pegawai SKPD, lembaga vertikal, hingga perbankan. Ia juga dikenal dengan terobosannya dalam penataan ulang ruang kerja, penyusunan SOP birokrasi, dan penyederhanaan alur pelayanan internal biro selama menjalani karier dari awal bekerja.
Yuyun bukan hanya pemimpin birokrasi, ia juga seorang mentor. Sejak 2012, ia menjadi dosen luar biasa mata kuliah Keprotokolan di Universitas Mulawarman. Ia juga aktif sebagai narasumber di berbagai pelatihan kehumasan, MC, hingga public speaking untuk ASN, mahasiswa, dan komunitas perempuan serta menjadi Juri di berbagai even perlombaan.
Gaya kepemimpinan Yuyun mengedepankan pendekatan etis dan komunikatif. Ia mendorong pegawainya tidak hanya bekerja sesuai aturan, tapi juga menyadari nilai-nilai pelayanan publik.
“Saya tidak ingin ada budaya kerja yang asal jalan. Harus ada standar dan jiwa dalam setiap pelayanan,” tegasnya.
Berbagai penghargaan telah ia raih, mulai dari Juara Dara Tepian tahun 1989, peserta terbaik pelatihan MC bersama TVRI Surabaya, Biro terbaik tahun 2023, dan setiap tahun sejak menjabat menjadi kepala biro masuk dlm 5 besar realisasi anggaran.
Di luar ruang kerja, Yuyun aktif dalam berbagai organisasi seperti Forum Komunikasi Karyawati, Wanita Al-Khairat, hingga Rabithah Alawiyah. Perannya tak hanya administratif, tapi juga advokatif dalam pemberdayaan perempuan, etika sosial, dan pelestarian budaya lokal.
“Perempuan bisa profesional, sekaligus menjadi penopang harmoni dalam birokrasi,” katanya dengan senyum ringan.
Saat dikonfirmasi terkait pengalaman mengesankan selama berada di instansi pemerintahan, Yuyun menyebut momen saat penyatuan air dan tanah dari 38 Provinsi yang ada di Indonesia saat peresmian Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara beberapa waktu yang lalu.
“Itu sangat berkesan bagi kami, karena merupakan sejarah Bangsa Indonesia yang disaksi oleh seluruh Dunia, di mana seluruh kepala daerah di Indonesia hadir di sini (IKN) ditambah lagi Kaltim merupakan mitra strategis IKN. Dimana pada waktu itu masih pandemi Covid-19, banyak tim kami yang juga terpapar sembari menyiapkan kegiatan tersebut agar berjalan lancar,” jelasnya.
Ke depan, ia berharap banyak perempuan yang mampu bersaing dan berdedikasi untuk terus mendukung proses pembangunan dan kemajuan di Bumi Etam. (adit)
Editor: M Khaidir


