Samarinda, Busam.ID – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Samarinda masih didominasi kelompok usia produktif, dengan ratusan temuan tercatat setiap tahun. Sepanjang 2024, terdapat 527 kasus HIV, dengan mayoritas usia 25-49 tahun sebanyak 308 kasus. Dari total itu, 409 kasus terjadi pada laki-laki dan 11 perempuan.
Tahun 2025, tren serupa masih terlihat dengan 492 kasus, terdiri dari 354 laki-laki dan 138 perempuan. Kelompok usia produktif kembali menjadi penyumbang terbesar dengan 295 kasus. Sementara periode Januari hingga Juni 2025, tercatat 223 kasus, dengan 168 laki-laki dan 55 perempuan.
Tim Pakar Komisi IV DPRD Samarinda, Masdar John, menilai kondisi ini menunjukkan penanganan HIV/AIDS perlu diperkuat dan tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah.
“Pemerintah punya kekuatan di kebijakan, akademisi di ilmu pengetahuan, swasta di pendanaan, masyarakat di sumber daya manusia, dan media di pembentukan opini publik,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Ia juga menyoroti masih adanya stigma terhadap orang dengan HIV yang membuat sebagian masyarakat enggan melakukan tes. “Kalau semua bergerak bersama, penanganan HIV/AIDS bisa lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismed Kusasih, menyebut meningkatnya angka temuan HIV dan TBC bukan semata karena lonjakan penderita, tetapi hasil dari intensifikasi pemeriksaan di lapangan.
“Meningkat itu berarti kasusnya bertambah karena kita menemukan lebih cepat. Prinsipnya di kesehatan, semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati,” terangnya.
Ia menambahkan, penanganan kedua penyakit tersebut memang membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.
“Kesadaran masyarakat itu kunci. Deteksi dini itu penting, supaya pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir


