Samarinda, Busam.ID – Workshop desain yang telah berlangsung di Hotel Puri Senyiur sejak tanggal 24 hingga 27 September 2023, dengan tema ‘Ruang Publik Berketahanan Iklim di Kawasan Pasar Segiri’ telah rampung digelar.
Workshop ini dibuka oleh Walikota Samarinda Andi Harun, melibatkan berbagai pihak yang memiliki peran penting dalam perencanaan pembangunan ruang publik tangguh terhadap perubahan iklim.
Direktur Eksekutif CeCUR, Retno Hastijanti, yang juga menjabat sebagai Project Director Adaptation Fund Project Samarinda, menjelaskan bahwa workshop ini melibatkan perwakilan masyarakat, komunitas, jurnalis, kelompok rentan, akademisi dan organisasi perangkat daerah (OPD) pemerintahan.

“Tujuan utama dari workshop ini adalah untuk lebih memahami kebutuhan dan harapan dari berbagai lapisan masyarakat terkait pembangunan ruang publik yang akan direalisasikan nantinya,” papar Retno.
Sementara itu, Profesor Mirko Guaralda dari Sekolah Arsitektur dan Lingkungan Buatan, Queensland University of Technology, yang turut serta dalam workshop ini, mengumumkan bahwa kegiatan workshop CeCUR berhasil merumuskan 10 kata kunci penting berdasarkan analisis dari gambar AI (Artificial Intelligence).
Kata-kata kunci tersebut adalah Komunitas, Budaya, Seni, Kewirausahaan, Kesehatan dan Kesejahteraan, Keberlanjutan, Aksesibilitas, Koneksi dengan alam, Materialitas serta Produksi.
“Hasil dari kata kunci ini akan dirincikan lebih lanjut oleh timnya ketika mereka kembali ke Australia,” jelasnya
Retno juga menegaskan bahwa hasil workshop ini nantinya digunakan dalam penyusunan detail engineering design (DED) yang akan diberikan kepada arsitek.
DED ini akan menjadi dasar dalam merealisasikan proyek fisik pembangunan ruang publik yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Selain itu, pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan (sustainable management) untuk ruang publik ini menjadi perhatian khusus.
Dikatakan Retno, proyek ini mendapat dukungan dari Adaptation Fund sebagai lembaga internasional.
“Nantinya akan ada sekitar Rp 10 miliar yang dianggarkan untuk pembangunan ruang publik berketahanan iklim di kawasan Pasar Segiri,” terang Retno.
“Rencananya, groundbreaking proyek ini akan dimulai pada bulan November 2023, dengan target penyelesaian pembangunan pada Mei 2024,” imbuh Retno.

Dengan banyaknya pihak yang terlibat dan berkomitmen kuat, proyek ini akan menjadi contoh nyata tentang bagaimana sebuah komunitas dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui inovasi dalam desain dan pengelolaan ruang publik. (Ryan)
Editor : A Risa








