Samarinda, Busam.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim memperkuat sistem pemantauan dampak kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Salah satu langkah yang dilakukan yakni mengintegrasikan pemantauan titik api, kualitas udara secara real-time, hingga perkembangan kasus ISPA melalui sistem kesehatan yang terhubung dengan pemerintah pusat.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, integrasi tersebut dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operations Center (PHEOC).
“Pemantauan aktif terhadap titik api, kualitas udara secara real-time, serta pemetaan tren kasus ISPA saat ini diintegrasikan melalui sistem SKDR dan Public Health Emergency Operations Center (PHEOC),” ujar Jaya, Senin (24/8/2026).
Menurut Jaya, sistem tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh informasi lebih cepat apabila terjadi bencana maupun dampak kesehatan yang ditimbulkan. Setiap kejadian ditargetkan dapat dilaporkan dalam waktu kurang dari 24 jam.
Pelaporan juga didukung Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan (SIPKK) yang terkoneksi dengan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Penguatan pemantauan menjadi perhatian lantaran kasus ISPA di Kaltim masih tergolong tinggi sepanjang 2026. Pada periode Januari hingga Juli, jumlah kasus tercatat berada di kisaran puluhan ribu setiap bulan.
Januari menjadi periode dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 35.137 kasus. Pada April, jumlah kasus kembali tinggi dengan 34.902 kejadian.
Kasus kemudian turun pada Mei menjadi 28.574, sebelum kembali meningkat pada Juli hingga mencapai 33.794 kasus.
“Sementara itu, berdasarkan pendataan terkini per tanggal 22 Agustus 2026, kami mencatat telah terjadi kemunculan 1.768 kasus ISPA baru,” papar Jaya.
Berdasarkan kelompok usia, masyarakat dewasa menjadi kelompok dengan rata-rata kasus paling tinggi, yang dapat mencapai sekitar 14 ribu kasus setiap bulan.
Sementara kelompok balita juga menjadi perhatian karena memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi. Rata-rata kasus pada kelompok tersebut berada di kisaran 7.000 hingga 8.900 kejadian setiap bulan.
Melihat kondisi tersebut, Dinkes Kaltim meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri, terutama ketika berada di lingkungan dengan kualitas udara yang menurun akibat asap karhutla.
Masyarakat diimbau memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk serta disiplin menggunakan masker.
Upaya tersebut dinilai penting untuk menekan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar rumah.
(Adit)
Editor: M Khaidir


