Edy Mulyadi Pernah Malang Melintang di Media

BusamID
Edy Mulyadi Pernah Malang Melintang di Media. Foto: istimewa

Samarinda, Busam.ID – Ternyata Edy Mulyadi yang saat ini videonya tengah viral lantaran menyebut lokasi IKN di Kaltim sebagai ‘tempat jin buang anak’ dan ‘hanya monyet yang mau tinggal di sana’, pernah malang melintang di dunia kewartawanan.

Dari informasi yang dihimpun media ini, Edy tercatat pernah bekerja sebagai jurnalis di Media Indonesia dan Metro TV. Sekeluar dari Metro TV, Edy kemudian menuangkan kemampuan menulisnya di media online seperti Kompasiana dan Warta Ekonomi. Edy juga pernah tercatat sebagai kontributor di Forum News Network.

Ternyata rekam jejaknya yang cukup senior di dunia kewartawanan, tak membuat Edy Mulyadi kemudian pandai meramu kata untuk disampaikan secara langsung. Terbukti Edy menelurkan kata-kata penghinaan tentang Kalimantan sebagai daerah yang terisolir.

“Hanya monyet yang mau tinggal di sana”.

Pernyataan Edy itu memantik kemarahan warga Kaltim. Banyak yang menyayangkan sikapnya. Bahkan salah satu forum pemuda sudah membuat laporan ke polisi terkait pernyataan Edy yang menghina Kaltim dan warganya.

Edy yang pernah mencaleg lewat jalur PKS, juga membuat gerah para elit PKS di Kaltim. Humas DPW PKS Kaltim Abdul Rohim, bahkan menegaskan jika Edi Mulyadi sejatinya bukan kader PKS.

“Ujaran itu merupakan upaya mengadu domba masyarakat dengan PKS,” ungkap Rohim.
Untuk itu Rohim menyatakan akan menempuh upaya hukum kepada pihak yang telah mengedit video yang viral tersebut dengan framing Edi Mulyadi sebagai kader PKS.

“Kami juga akan memproses ‘pihak’ yang telah mengedit video tersebut dengan framing Edy sbg politisi PKS,” imbuhnya.

Sementara itu tokoh senior wartawan di Kaltim yang juga Walikota Balikpapan dua periode Rizal Effendi, menanggapi ujaran kebencian dalam cuitan Edy dalam kanal youtube-nya itu, mengajak masyarakat Kaltim untuk berkepala dingin dan tidak terprovokasi. Rizal menyampaikan tanggapannya lewat media ig-nya sebagai berikut.

“Indonesia bukan hanya soal Jakarta. Dari Sabang sampai Merauke, semua bersama dalam bingkai Nusantara. Tidak apa tidak setuju wacana pemindahan Ibukota. Tapi menghina warga Kalimantan, ini lain cerita.

Datang ke Balikpapan, lihat bagaimana warga kota ini menjunjung tinggi toleransi. Lihat, betapa ramahnya kami bagi para pendatang. Bergandengan tangan, membantu sesama, tanpa terkotak perbedaan.

Tempat jin buang anak? Hanya monyet? Kota ini bukan lagi hanya sekadar hutan belantara. Ada budaya, tradisi dan kultur yang dijaga seiring dengan pembangunan yang ada.

Iya, sama seperti yang lain, saya tersinggung dengan pernyataan ini. Tapi sebagai warga negara Indonesia, semoga kami tidak terpancing dalam provokasi perpecahan. Salam dari Kalimantan”. (berbagai sumber/an)

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *