Samarinda, Busam.ID – Di balik hiruk-pikuk kehidupan kota, terselip kisah sunyi yang menyayat hati. Seorang siswa kelas 2 SMK Negeri 4 Samarinda, Mandala Risky, meninggal dalam usia muda, bukan karena kecelakaan besar atau penyakit berat yang terdeteksi, tetapi karena rasa sakit yang ia pendam sendiri, demi tidak merepotkan orang tuanya.
Mandala dikenal sebagai anak yang kuat dan pendiam. Di mata ibunya, Ratnasari, ia bukan tipe yang suka mengeluh. Bahkan saat sakit, ia lebih memilih menahan rasa, seolah semuanya baik-baik saja.
“Dia itu anak kuat. Sakit pun dia simpan sendiri, supaya tidak merepotkan saya,” tutur Ratnasari dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya di Jalan Ahmad Dahlan, RT 13, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota, Sabtu (2/5/2026)
Semua bermula dari sepatu sekolah yang sudah tak lagi muat di kakinya. Ukuran kakinya terus bertambah, namun kondisi ekonomi keluarga membuat Mandala tetap memaksakan diri memakai sepatu lama sejak kelas 1.
Saat menjalani kerja sambilan dengan jam panjang, berdiri dari siang hingga malam, rasa sakit mulai muncul. Awalnya hanya pegal di jari kaki. Namun perlahan menjalar ke punggung kaki, pinggang, hingga punggung.
“Dia bilang cuma pegal, cuma butuh istirahat. Saya tidak tahu kalau separah itu,” ujar sang ibu.
Mandala sempat menerima upah dari kerjanya sebesar Rp840 ribu. Namun bukan untuk dirinya, seluruh uang itu ia serahkan kepada ibunya untuk membantu biaya sewa rumah. Ketika sang ibu mengusulkan membeli sepatu baru, jawabannya justru membuat hati teriris.
“Tidak usah, Ma. Lebih baik untuk bayar rumah saja. Mandala masih bisa tahan,” ucapnya saat itu.
Hari-hari terakhirnya justru tampak seperti harapan yang mulai tumbuh. Ia sempat mengatakan ingin kembali sekolah, meski harus memakai sandal karena sepatunya sudah tak bisa dipakai. “Mandala mau sekolah, Ma… tapi sepatunya sudah kekecilan,” katanya lirih.
Malam sebelum kepergiannya, Mandala sempat makan dengan lahap, tak seperti biasanya. Ia juga masih sempat membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Namun di balik itu, ada kalimat yang kini terus terngiang di benak sang ibu.
“Ma, jaga kesehatan… jaga kakak sama adik. Mandala kayaknya sudah nggak kuat,” ucapnya pelan.
Tak ada yang menyangka itu menjadi pesan terakhir. Sekitar pukul 01.00 dini hari, Ratnasari mendapati anaknya telah terbujur kaku di tempat tidur. Tanpa suara. Tanpa keluhan. Pergi dalam diam.
Kisah Mandala bukan sekadar tentang kemiskinan, tetapi tentang seorang anak yang memilih memendam sakit demi keluarga. Tentang ketulusan yang justru berujung duka. Di tengah keterbatasan, ia tetap ingin sekolah. Di tengah rasa sakit, ia tetap ingin membantu orang tua. (zul)
Editor: M Khaidir


