Samarinda, Busam.ID- Dampak kemarau panjang yang memicu intrusi air laut ke sumber air baku membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengambil langkah tegas. Pemkot menyiapkan skenario pengurangan produksi air bersih sekaligus memperingatkan warga, air dialirkan saat ini hanya diperuntukkan bagi kebutuhan non-konsumsi.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengungkapkan, Pemkot telah memetakan sejumlah rencana taktis (Plan A, B, dan C) guna merespons kondisi krisis air bersih tersebut.
“Kita ada 3 opsi. Plan A itu beroperasi normal. Plan B kita mulai mengurangi produksi. Skenario berikutnya, air tetap dialirkan tetapi dengan catatan tegas: tidak boleh dikonsumsi untuk minum atau memasak,” tegas Marnabas, kemarin.
Dia menjelaskan, air yang bersumber dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) terdampak intrusi hanya aman dimanfaatkan untuk kebutuhan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK). Mengingat tingkat salinitas (kadar garam) yang berpotensi membahayakan kesehatan jika dikonsumsi, Pemkot bergerak cepat melakukan sosialisasi secara massif.
Informasi itu diteruskan secara berjenjang dari tingkat camat, lurah, hingga ke pengurus RT agar langsung sampai ke tangan warga.
“Kami sudah panggil para camat dan lurah. Nanti lurah secara bertahap hingga ketua RT akan menyampaikan langsung ke warga bahwa air ini jangan dikonsumsi,” jelasnya.
Dan guna memenuhi kebutuhan air minum warga di wilayah terdampak, lanjutnya, Pemkot Samarinda menggandeng pihak swasta, perusahaan, serta warga yang memiliki armada mobil tangki. Sistem distribusinya tidak dilakukan dari rumah ke rumah (door to door), melainkan dipusatkan di fasilitas umum (fasum) yang memiliki fasilitas keran memadai.
“Kami manfaatkan tempat umum seperti masjid dan gereja. Fasilitas tersebut punya banyak titik keran, jadi armada cukup mengisi penampungan di sana dan masyarakat tinggal mengambilnya. Kalau harus melayani satu per satu rumah, tidak akan selesai,” terang Marnabas.
Sebagai langkah jangka pendek menambah pasokan air baku, ujarnya, Pemkot Samarinda memanfaatkan potensi air dari kawasan trek dayung untuk dialirkan ke Bendungan Benanga. Skema ini diharapkan dapat menopang operasional pengolahan air bersih di kawasan Gunung Lingai dan Lempake.
Tak hanya sektor domestik, juga diberikan perhatian serius pada sektor pertanian agar terhindar dari ancaman gagal tanam dan lonjakan inflasi pangan.
“Ini jadi perhatian serius Bapak Wali Kota agar para petani tetap bisa berproduksi. Jika pertanian terganggu, dampaknya bisa memicu inflasi.
Alhamdulillah, angka inflasi kita bulan ini justru menunjukkan penurunan,” pungkas Marnabas. (zul)
Editor: M Khaidir


