Samarinda, Busam.ID – Seorang remaja berusia 13 tahun diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok pemuda di Samarinda. Peristiwa terjadi, Minggu (17/5/2026) dini hari sekitar pukul 01.30 Wita itu membuat korban mengalami sejumlah luka memar di tubuh dan diduga mengalami trauma.
Orang tua korban mengaku syok setelah mendengar cerita anaknya yang disebut dipukul beramai-ramai oleh puluhan orang yang tidak dikenalnya. Diceritakan, sebelum kejadian anaknya sempat keluar untuk membeli nasi goreng. Anaknya kemudian sempat dihampiri seseorang yang menanyakan apakah dirinya berasal dari kawasan Pasar Kedondong.
“Awalnya dicegat dan ditanya, katanya, kamu anak Pasar Kedondong kah? Anak saya bilang bukan,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, malam kejadian anaknya sempat nongkrong bersama teman-temannya sebelum mengantar seorang teman untuk mengganti jaket. Saat perjalanan pulang, korban diduga kembali dicegat.
Awalnya hanya 2 orang yang menghentikan korban. Namun situasi berubah ketika sejumlah orang lain berdatangan. “Anak saya bilang awalnya sekitar 10 orang, tapi temannya yang ada di lokasi bilang jumlahnya sampai sekitar 20 orang,” katanya.
Sang Ibu mengaku paling terpukul bukan hanya karena anaknya dipukul, tetapi karena dugaan aksi pengeroyokan dilakukan secara beramai-ramai. “Kalau misalnya berkelahi 1 lawan 1 mungkin saya masih bisa terima. Tapi kalau 1 anak dipukul ramai-ramai seperti itu yang saya tidak terima,” katanya.
Korban yang disebut bertubuh lebih besar dibanding rekannya diduga menjadi sasaran utama. Sementara seorang teman korban yang juga berada di lokasi hanya sempat ditahan dan tidak mengalami pemukulan.
Ia juga menyoroti adanya rekaman video yang beredar di media sosial. Video tersebut diduga memperlihatkan situasi setelah pemukulan terjadi. Video itu diperoleh dari salah satu teman anaknya yang menerima kiriman rekaman yang diduga beredar dari kelompok pelaku sendiri.
“Yang bikin saya heran, video itu malah tersebar. Saya dapat dari teman anak saya,” ujarnya.
Upaya mencari rekaman CCTV di sekitar lokasi juga belum membuahkan hasil. Dia mengaku sempat mendatangi lingkungan setempat, namun kamera pengawas di titik yang diduga menjadi lokasi pemukulan disebut sedang tidak aktif.
Hingga saat ini keluarga masih mengumpulkan bukti dan berencana melakukan visum terhadap korban sebagai bahan pelaporan ke pihak kepolisian.
“Saya ingin ada efek jera supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke anak-anak yang lain,” tutupnya. (zul)
Editor: M Khaidir


