Samarinda, Busam.ID – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda dr David Hariadi Mazhoer akhirnya angkat bicara dan memberikan penjelasannya terkait bayi berusia 6 bulan penderita muntaber yang meninggal dunia di ruang IGD RS AWS Samarinda, Jumat (29/6/2024) lalu.
“Keluarga pasien menanyakan kenapa ada dua perbedaan diagnosis, ya kalau itu kan wajar saja, seiring perjalanan waktu yang awalnya tadi diagnosisnya sedang, terus menjadi berat, karena pasien ini kan terus muntah dan diare. Dan bayi gemuk itu memang agak susah diagnosisnya,” ujar David, Selasa (2/7/2024).
Diakuinya, pada saat penanganan awal, Dokter jaga gagal mencari pembuluh darah bayi tersebut lantaran kondisinya yang gemuk atau obesitas.
“Memang untuk mencapai akses itu bisa dilakukan venaseksi, bisa dilakukan pasang CPP, tapi itu dilakukan oleh dokter ahli memang dan berisiko. Biasanya tindakan itu dilakukan dengan kondisi pasien yang betul-betul fit. Ketika dicoba konsultasi ke dokter anastesi, saat itu dokter anestesi yang jaga sedang ada operasi di lantai 3, sehingga dia tidak bisa turun. Kemudian dikonsultasikan dengan dokter yang lain dan memang dokter yang lain sedang tidak bisa juga,” jelas David.
Dijelaskannya lagi, saat penanganan awal hingga dinyatakan meninggal dunia, pasien tersebut dalam kondisi yang belum terpasang infus karena alas an pasien gemuk itu tadi. Dugaan sementara pasien meninggal karena dehidrasi akibat diare dan muntahnya.
“Kalau pasien gemuk venanya susah dicari, kalau dehidrasi akibat diare itu kan biasa terjadi kolaps dari pada pembuluh darah. Kolaps pada pembuluh darah ini yang membuat kita kesulitan untuk mencari pembuluh darah, seandainya dilakukan venaseksi pun belum tentu berhasil juga,” ujarnya dengan tegas.
Bayi tersebut diakui meninggal sebelum infus terpasang, David mengatakan, RSUD AWS Samarinda akan melakukan audit internal untuk menyelidiki lebih lanjut penyebab meninggalnya bayi itu. “Kita tidak tahu, apakah kegagalan itu karena memang kondisi pasien jelek, makanya sementara ini kita lakukan audit oleh pihak Komite Medis,” tutupnya.
Seperti diketahui bayi tersebut berasal dari Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar) dan dirujuk ke RS AWS Samarinda sekitar pukul 18.55 Wita dengan keluhan diare dan muntah atau muntaber. Bayi tersebut mengalami obesitas, yang membuat diagnosis awal agak sulit.
Bayi malang sempat dirujuk ke beberapa Rumah Sakit, namun tidak ada yang mampu, sehingga RSUD AWS menjadi harapan terakhir keluarga korban untuk ditangani. Namun malang, di RSUD AWS, bayi tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. (zul)
Editor: M Khaidir


