Karhutla di Samarinda Meluas, Total Area Terbakar Tembus 608 Ha

Busam ID
Damkar melakukan pembahasan di tanah gambut perumahan Korpri pelita 8 Samarinda. (foto by dm)

Samarinda, Busam.ID – Asap pekat merayap cepat menutupi Jalan Sultan Sulaiman, membatasi jarak pandang para pengendara yang melintas di jalur utama Sambutan, Samarinda. Di balik pekatnya jelutang asap tersebut, hamparan lahan seluas puluhan hektare (ha) di kawasan Pelita 8, Kelurahan Pulau Atas, terbakar hebat, Senin (5/10/2026).

Amuk si jago merah yang tak kunjung padam memperpanjang daftar kelam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ibu kota Kaltim. Hingga pukul 16.23 Wita, eskalasi api belum menunjukkan tanda-tanda mereda, menjadikannya episentrum karhutla terparah di Samarinda.

Wilayah Pulau Atas kini memegang rekor sebagai lokasi dengan frekuensi karhutla tertinggi di Samarinda. Hanya dalam waktu kurang dari sepekan, luas lahan yang hangus terbakar di titik ini membengkak signifikan.

“3 hari terakhir saja ada sekitar 19 hektare yang terbakar. Jika diakumulasikan mencapai 34 ha, maka total lahan terbilang hangus di Pulau Atas saja sudah menembus 53 ha,” tegas Kepala

Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, saat memimpin pertempuran melawan api di lokasi kejadian.
Angka 53 hektare tersebut baru sebagian kecil dari gambaran besar krisis lingkungan yang tengah melanda Samarinda. Secara akumulatif, total area tergerus karhutla di seluruh penjuru kota telah menembus angka fantastis 608,18 hektare. Titik-titik api tak hanya menggelegak di Sambutan, tetapi juga menyebar ke Palaran, Lempake di Samarinda Utara, hingga kecamatan lainnya.

Cepatnya perambatan api di Sambutan bukan sekadar dipicu cuaca terik, melainkan faktor geologis kawasan setempat. Suwarso menjelaskan bahwa kombinasi tiga elemen alami menjadikan wilayah ini ibarat sekam yang mudah meledak.

Perjuangan Satgas Karhutla dan relawan di lapangan kian berat setelah dukungan armada udara diputus. Unit helikopter water bombing milik BNPB telah ditarik dari Kaltim sejak 4 hari lalu untuk diperbantukan ke zona darurat lain.

“Helikopter digeser oleh BNPB untuk memperkuat penanganan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah yang kondisinya dinilai jauh lebih parah,” terang Suwarso.

Tanpa bantuan guyuran air dari langit, personel darat terpaksa mengandalkan strategi pemadaman estafet. Merayap di medan perbukitan curam tanpa akses kendaraan, petugas menjalin selang-selang air dari sungai atau sumber air terdekat untuk menjangkau jantung api.

Selain mengancam lalu lintas jalan raya, pergerakan api kini mengintai objek vital dan permukiman padat. Petugas terpaksa berjibaku hingga larut malam guna memutus perimeter api agar tidak menyambar gardu listrik PLN dan rumah-rumah warga sekitar.

Melihat skala ancaman yang kian membesar, BPBD Kota Samarinda saat ini tengah memproses perpanjangan status Tanggap Darurat Karhutla. Dokumen administrasi telah diajukan dan kini berada di meja pengambil kebijakan menunggu penetapan resmi.

Sementara itu, pemantauan citra visual titik api terus dikirimkan ke BNPB pusat dengan harapan armada water bombing dapat segera dikembalikan ke Kaltim melalui Bandara APT Pranoto. (zul)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *