Samarinda, Busam.ID – Maraknya kasus kekerasan seksual baik itu pencabulan maupun pemerkosaan di Indonesia kian meresahkan. Peristiwa bejat yang sudah merambah lingkup pendidikan terutama pondok pesantren (ponpes) itu, menimbulkan kecemasan para orangtua siswa untuk memondokkan anak- anaknya di pesantren.
Sebagaimana ramai diberitakan, oknum guru di salah satu ponpes di Bandung Jawa Barat dilaporkan ke polisi setelah perbuatan bejatnya memperkosa dan mencabuli 12 santriwatinya terungkap.
Sebagaimana dikutip dari Sindonews.com, oknum guru ponpes di Bandung itu bernama Herry Wirawan alias Heri bin Dede, sudah lama melakukan aksi bejatnya menggarap santriwati yang mondok di ponpes tersebut. Santriwati yang menjadi korban kebejatan Heri umumnya masih belia berumur 16-17 tahunan.
Adab taklid atau manut kepada guru di lingkup ponpes, ditambah wibawanya sebagai salah seorang pimpinan di ponpes, ternyata dimanfaatkan Heri untuk memuluskan kebejatannya suka daun muda. Alhasil setelah sekian lama dan makan banyak korban, kebejatan Heri baru terungkap.
Berkaca dari kasus tersebut, Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Ely Hartati Rasyid, meminta Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera melakukan upaya pencegahan terhadap kemungkinan kasus yang sama terjadi di ponpes daerah ini. Tidak hanya ponpes menurut Ely, termasuk lembaga pendidikan lainnya yang berfasilitas asrama bagi para muridnya.
Menurut Ely, sudah saatnya Pemda turun langsung melihat kondisi di lapangan. Pemerintah harus peka terhadap kondisi ini. Harus ada pengawasan ketat terhadap aktivitas dari lembaga pendidikan yang ada, baik sekolah umum apalagi lembaga pendidikan dengan fasilitas asrama.
“Ini kasus yang luar biasa memalukan dan memilukan. Memalukan institusi pendidik yang seharusnya menempa akal dan jiwa muridnya untuk terdepan, malah oknum pendidiknya yang merusak dan mencoreng almamater guru. Memilukan bagi santriwati yang menjadi korbannya, bukan mendapat perlindungan dia malah dinodai membekas seumur hidupnya. Cukup sering ya kejahatan asusila ini terjadi di lingkup ponpes, sudah waktunya pemerintah turun tangan. Pemerintah harus sidak berkala semua sekolah, terutama lembaga pendidikan berasrama perlu lebih sering dikunjungi untuk monitoring kelancaran proses belajar mengajar. Jika sering disidak, setidaknya ada keanehan atau penyimpangan dapat segera diendus lalu ditindaklanjuti. Seperti yang terjadi di Bandung setelah makan korban banyak baru terungkap ,” papar Ely.
Politikus PDI-Perjuangan itu menyebut, demi mencegah terjadinya kasus yang sama di Kaltim, dirinya mengaku secepatnya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk membicarakan antisipasi persoalan demikian di Benua Etam tercinta.
“Pemerintah di tiap tingkatan harus betul-betul memastikan kelayakan sekolah terutama lembaga pendidikan berasrama. Semuanya harus dilihat. Kementrian Pendidikan maupun Kementrian Agama harus bertindak,” tandasnya.
Peristiwa yang terungkap saat ini menurut Ely, kemungkinan hanya sebagian yang berhasil sampai ke polisi. Dia yakin banyak kasus serupa yang belum terungkap. Lantaran kasus asusila demikian dianggap aib oleh sebagian besar masyarakat. Ely juga mengimbau orangtua murid yang menitipkan anaknya di asrama sekolah, agar sering melakukan komunikasi dengan putra/putrinya guna cek ricek keadaan mereka.
“Jangan sampai anak kita tertekan, orangtua tidak tahu. Kalau orangtua peka dengan keadaan anaknya, begitu mengetahui ada yang janggal, orangtua harus segera bertindak. Jangan sampai sudah kejadian, baru orangtua tersadar,” tegas Ely.
Pencabulan tidak hanya terjadi oleh guru laki-laki kepada murid perempuannya, guru laki-laki mencabuli murid laki-lakinya (sodomi) pun tidak tertutup kemungkinan. Jadi menurut Ely, cek ricek sekolah terutama lembaga pendidikan berasrama harus digiatkan guna monitoring suasana belajar mengajar yang sehat dan sesuai visi misi lembaga pendidikan tersebut.
“Syukur akhirnya ini bisa diungkap. Saya yakin masih banyak kasus-kasus seperti ini yang belum terungkap. Kalau hari ini guru laki-laki mencabuli murid perempuannya, bukan tidak mungkin nanti ada juga guru laki-laki cabul dengan murid lakinya,” imbuhnya. (mm/an)








