Pemuda 27 Tahun di Balik Sukses Kampung Lutan Raih Juara 1 Swasembada Pangan Nasional

Busam ID
Filza Sigit Pratama (kiri) saat menerima hadiah Juara 1 Lomba Desa Swasembada Pangan Tingkat Nasional dalam UNESA Village Award 2025 didampingi oleh Sekda Mahakam Ulu, Stefanus Madang (tengah) dan Kepala Kampung Lutan, Sukarni Jaya. Foto by Filza Sigit Pratama

Samarinda, Busam.ID – Di balik gemilangnya prestasi Kampung Lutan, Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu, yang meraih Juara 1 Lomba Desa Swasembada Pangan Tingkat Nasional dalam UNESA Village Award 2025, terdapat sosok muda yang menjadi motor penggerak berbagai inovasi pangan. Dialah Filza Sigit Pratama, Sekretaris Desa berusia 27 tahun.

Lahir di Samarinda pada 22 Mei 1997, Filza merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Setelah menamatkan pendidikan di Universitas Mulawarman dan lulus pada 2023, ia memilih kembali ke kampung halaman orang tuanya, Kampung Lutan. Bahkan jauh sebelum lulus, Filza sudah mengabdikan diri untuk kampung sejak 2021.

Kini, sebagai Sekretaris Desa Lutan, berbagai gagasan besar mengenai ketahanan pangan tumbuh dari tangan Filza.
Filza tak ingin Kampung Lutan terus menyandang status desa tertinggal. Ia melihat Mahakam Ulu memiliki sumber daya alam melimpah yang belum dikelola optimal. Dari keresahan itulah, ia membentuk Lutan Agro Farm, kawasan mini food estate seluas 21 hektare yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Ini pembuktian desa tertinggal pun bisa mandiri pangan jika potensi SDA dikelola dengan serius,” ujarnya.

Dampaknya langsung terasa. Harga pangan yang sebelumnya melambung kini bisa ditekan signifikan. Telur yang sebelumnya dijual Rp75–85 ribu per piring, kini menjadi Rp58 ribu. Harga tomat turun dari Rp30 ribu menjadi Rp8–12 ribu per kilogram, dan ketimun dari Rp15 ribu menjadi hanya Rp8 ribu.

“Model terpadu Lutan Agro Farm mulai dari pemanfaatan limbah peternakan menjadi pupuk hingga hasil pertanian sebagai pakan menjadi nilai lebih di mata dewan juri. Program ini bukan hanya memproduksi pangan, tapi memutus rantai harga mahal yang selama ini membebani masyarakat pedalaman,” jelas Filza.

Dari total 21 hektare tersebut, 10 hektare ditanami padi gunung organik, 4 hektare untuk hortikultura, dan 7 hektare menjadi kawasan peternakan dan perikanan. Produk unggulan berupa beras gunung organik menjadi komoditas yang membuat para juri terkesan.

Tak berhenti di sana, Filza juga mendorong lahirnya inovasi pangan dari olahan singkong lokal. Singkong yang dulunya hanya menjadi pakan ternak kini diolah menjadi Keripik Jawao, produk unggulan Kampung Lutan yang meraih Juara II tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Minimnya infrastruktur dan teknologi tidak menjadi hambatan. Sebaliknya, justru memicu kreativitas Filza. Ia berhasil membuat pupuk organik serta bioplastik ramah lingkungan yang dapat mendeteksi tingkat kebusukan makanan, sebuah karya yang sempat viral di media sosial.
“Semua inovasi itu dilakukan di tengah akses jalan yang terbatas dan minimnya dukungan teknologi modern,” ungkapnya.

Sebelum program swasembada pangan berjalan, kelompok tani hanya menanam untuk konsumsi harian. Kini mereka mampu menghasilkan pendapatan rutin.
“Kelompok tani sekarang benar-benar produktif. Program ini mengurangi pengangguran dan membuka lapangan kerja baru,” jelas Filza.
Meraih juara nasional tidak membuat Kampung Lutan berpuas diri. Filza sudah menyiapkan program jangka panjang melalui Mitra Ternak dan Mitra Tani.

“Target kami adalah memproduksi 2.000 sampai 5.000 ekor ayam petelur. Setiap kepala keluarga akan menerima 100 ekor ayam dan cukup melakukan perawatan, sementara kebutuhan pakan ditanggung Badan Usaha Milik Kampung (BUMKAB),” bebernya.
Ia juga menggagas sekolah pertanian terintegrasi untuk mendorong minat generasi muda menjadi petani modern yang memanfaatkan teknologi dan inovasi.

Baginya, masa depan pangan Indonesia bertumpu pada desa. “Jika anak muda tidak mau menjadi petani, bagaimana kebutuhan pangan bangsa bisa terpenuhi?” tegasnya.
Di tengah kesibukan membangun kampung, Filza tetap menyempatkan waktu untuk keluarga kecilnya. Ia baru menikah pada Juni 2024. Namun tanggung jawab sebagai motor perubahan tak membuatnya gentar.
Prestasi nasional yang diraih Kampung Lutan menjadi bukti kerja keras dan visi seorang pemuda dari pedalaman mampu mengguncang panggung nasional. (zul)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *