Sampah Disulap Menjadi Harapan

Busam ID
Misran Maulana atau akrab disapa Ujang saat mempraktekkan cara pembuatan sabun batang kepada ibu-ibu anggota Bank Sampah Subur Makmur di Jalan Assa’ Aadah Samarinda, Sabtu (13/12/2025). Foto by Zulkarnain

Rambut panjang di bagian atas yang diikat ke belakang, dengan sisi kanan dan kiri cepak, menjadi ciri khas Misran Maulana. Pria kelahiran 1991 yang akrab disapa Ujang oleh warganya ini, di usianya yang relatif muda, mengemban amanah sebagai Ketua RT 16. Selain itu, Ujang juga menjadi salah satu penggerak pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Mugirejo, Samarinda.

Lulusan Sekolah Kejuruan ini telah berkeluarga dan dikaruniai 2 orang anak. Meski demikian, kesibukan sebagai kepala keluarga tak menghalanginya untuk aktif mengabdi di lingkungan. Bahkan, Ujang disebut-sebut sebagai salah satu ketua RT termuda di wilayahnya. Keterlibatannya dalam kegiatan sosial dan lingkungan telah berjalan kurang lebih 1 tahun terakhir, berangkat dari kegelisahan melihat kondisi sekitar.

“Sebagai ketua RT, persoalan sampah di tempat kami cukup kompleks dan meresahkan. Masih banyak warga yang kurang peduli dan membuang sampah sembarangan,” tuturnya.

Berbagai upaya edukasi telah dilakukan, namun Ujang menyadari imbauan semata belum cukup. Dari situlah muncul gagasan untuk menghadirkan solusi nyata melalui pengelolaan sampah yang tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Berlandaskan kepedulian terhadap lingkungan yang kian kotor, Ujang bersama warga kemudian berinisiatif berkolaborasi dengan beberapa RT lainnya untuk membentuk dan mengembangkan Bank Sampah Subur Makmur. Kolaborasi tersebut melibatkan RT 15, 16, 18, dan 19, dengan fokus pada pengolahan sampah rumah tangga menjadi produk bernilai guna.

“Harapannya, dari pengelolaan sampah ini bisa tumbuh kesadaran masyarakat. Sampah itu bukan hanya masalah, tapi juga punya nilai positif dan nilai jual jika dikelola dengan baik,” jelasnya.
Inovasi yang dikembangkan pun beragam. Sampah organik diolah menjadi produk kebersihan seperti lilin, sabun cuci piring, sabun padat, hingga deterjen cair berbahan ekoenzim. Menurut Ujang, meski busa sabun ekoenzim tidak sebanyak sabun pabrikan, hasilnya lebih kesat dan tetap efektif untuk membersihkan.

“Di Indonesia orang terbiasa menilai sabun dari busanya. Padahal sabun ekoenzim ini tidak banyak busa, tapi daya bersihnya justru lebih terasa,” ungkapnya.

Keberadaan Bank Sampah Subur Makmur mulai memberikan manfaat nyata. Selain membantu mengurangi timbunan sampah, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi dan berpotensi menciptakan lapangan kerja baru bagi warga. Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait ketersediaan bahan baku.

“Beberapa bahan harus kami beli dari luar Kota Samarinda dan memerlukan perizinan khusus. Itu tantangan utama kami,” katanya.
Karena itu, Ujang berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah kota dan instansi terkait, baik dalam hal kemudahan perizinan, penyediaan bahan, maupun promosi produk hasil olahan sampah.

Dukungan masyarakat dan kelurahan pun dinilainya sangat penting agar program ini bisa berkelanjutan.
Bagi Ujang, dampak paling positif dari inovasi ini adalah kontribusi nyata dalam membantu menyelesaikan persoalan sampah di Samarinda. Sementara tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir masyarakat.

“Kita harus terus bersosialisasi. Sampah bisa menjadi nilai ekonomis kalau dikelola dengan baik. Mengubah budaya itulah tantangan terberatnya,” pungkasnya. (zul)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *