Samarinda, Busam.ID – Angka kasus tuberkulosis (TBC) di Samarinda masih tinggi. Data Dinas Kesehatan mencatat 4.042 kasus sepanjang 2024 dari 16.689 warga yang diperiksa, dengan 145 kematian. Sementara Januari–Agustus 2025 ditemukan 1.645 kasus baru, dan jumlah kematian mencapai 44 orang hingga September 2025.
Di tengah tingginya kasus infeksi TBC ini, dokter paru mengingatkan masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit paru lain yang tak kalah berbahaya, yaitu kanker paru.
“Dua-duanya berbahaya, dan pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan, karena kalau sudah stadium lanjut harapan sembuhnya menipis,” jelas Koordinator Program Studi Spesialis Penyakit Paru dan Pernapasan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman – RSUD Abdul Wahab Sjahranie, dr. Marwan, Senin (17/11/2025).
Menurutnya, gaya hidup tidak sehat, kebiasaan merokok, serta paparan polusi menjadi pemicu utama gangguan paru, khususnya kanker. Dalam satu batang rokok saja terdapat lebih dari 6.000 zat berbahaya yang bersifat karsinogenik. Ia juga menegaskan bahwa rokok elektrik (vape) bukan pilihan yang lebih aman.
“Segala sesuatu yang dimasukkan ke tubuh, padahal mestinya tidak, pasti ada efeknya. Asap dari vape tetap masuk paru, dan reaksinya bisa berbahaya,” ujarnya.
Marwan mengingatkan masyarakat untuk mulai menjaga kesehatan paru sejak dini, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan. “Gizi seimbang, tidur cukup, olahraga, dan menjaga lingkungan dari polusi adalah kunci utama,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir


