Samarinda, Busam.ID – Pemkot Samarinda mulai memetakan ancaman krisis pangan dan inflasi seiring pengembangan kawasan Tri-City pendukung Ibu Kota Nusantara (IKN). Lonjakan penduduk di kawasan penyangga diproyeksikan melonjak drastis dari 2,6 juta jiwa menjadi 3,5 juta jiwa pada 2030.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Samarinda, Marnabas Patiroy, menyebut ledakan populasi tersebut rawan memicu gejolak harga karena pasokan pangan lokal saat ini baru siap memenuhi 35 persen kebutuhan. Sisanya masih bergantung pada pasokan luar pulau seperti Jawa dan Sulawesi.
“Yang paling berbahaya itu inflasi. Kebutuhan pangan kita sekarang masih bergantung luar daerah. Kalau penduduk bertambah besar, tentu kebutuhan juga meningkat,” ujar Marnabas, Selasa (9/6/2026).
Merespons ancaman tersebut, Pemkot Samarinda mendesak pemerintah pusat dan JICA agar memasukkan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) serta Penajam Paser Utara (PPU) ke dalam masterplan kawasan. Keterlibatan kedua daerah ini dinilai krusial untuk memperkuat sektor hortikultura dan cetak sawah sebagai lumbung pangan penyangga.
Selain masalah isi perut, Marnabas juga mewaspadai dampak sosial arus urbanisasi ke Samarinda yang berpotensi menjadi beban daerah jika datang tanpa keterampilan.
Sebagai langkah antisipasi ekonomi, Samarinda kini mulai menyiapkan kawasan Palaran untuk disulap menjadi pusat logistik dan industri terintegrasi IKN melalui pelabuhan multipurpose.
“Ketika IKN beroperasi penuh, kita tidak ingin baru mulai bersiap. Harapannya perputaran ekonominya juga bisa dinikmati Samarinda,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir


