Rela Jual Emas Demi Wujudkan Mimpi

Busam ID
Hernani Astuti saat menjadi Ratu Kebaya se-Kabupaten Berau, tahun 2004. Foto by Hernani Astuti

BAGI sebagian orang, perhiasan emas adalah simbol kemapanan. Namun bagi Hernani Astuti, emas justru menjadi modal untuk mengejar mimpi. Gelang dan kalung kesayangannya rela dijual agar ia bisa membeli gaun pengantin, dekorasi pelaminan, hingga kursi resepsi. Keputusan itu menjadi titik awal lahirnya Tuti Salon, nama yang kemudian melegenda di Kabupaten Berau.

Kini, perempuan kelahiran Gunung Tabur itu telah menginjak usia 60 tahun. Puluhan tahun berkarya membuat namanya tak hanya dikenal sebagai perias pengantin, tetapi juga pelaku UMKM, pengusaha properti, pengrajin, hingga mentor berbagai pelatihan kerajinan. Tak heran jika Bupati Berau Sri Juniarsih menyebut Hernani sebagai sosok perempuan multitalenta.

Di balik kesuksesannya, tersimpan perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Hernani merupakan anak kedua dari sebelas bersaudara pasangan almarhum Haji Adji Pitro dan Hj Noor Sammah. Sang ayah dikenal sebagai pelukis legendaris Berau di era 1980-an melalui karya lukisan kaca terbalik yang hingga kini masih dikenang masyarakat.

“Memang bakat melukis itu turun dari bapak. Hampir semua adik saya juga menjadi pelukis,” kenangnya.
Masa kecil Hernani jauh dari kata mudah. Saat menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Tanjung Redeb, ia harus menyeberangi Sungai Segah setiap hari dari Gunung Tabur. Kala itu belum ada transportasi penyeberangan seperti sekarang.

Bersama teman-temannya, ia berdiri di tepian sungai sambil berteriak memanggil perahu yang melintas agar bisa menyeberang, sebelum kembali berjalan kaki menuju sekolah. “Kami sering menunggu sambil berteriak minta dijemput. Kalau ada orang lewat naik perahu, kami ikut menumpang. Begitu terus selama 3 tahun sekolah,” ujarnya sambil tersenyum.

Setelah lulus SMA tahun 1987, keinginannya melanjutkan pendidikan harus pupus. Orang tuanya memilih menikahkannya dengan Hamdani, pria asal Samarinda yang saat itu bekerja di sektor pertanian di Berau.
Dari pernikahan tersebut lahir 5 orang anak. Anak sulungnya bahkan mengikuti jejak sang ibu menjadi perias pengantin. Kecintaan Hernani terhadap dunia tata rias sebenarnya sudah muncul sejak remaja. Ia senang mendandani teman-temannya tanpa pernah membayangkan hobi itu kelak menjadi sumber penghidupan keluarga.

Tanpa modal dan tanpa memiliki salon, ia memberanikan diri menawarkan jasa merias pengantin. Kesempatan pertama datang ketika anak seorang lurah di Labanan akan menikah. Meski keluarga tersebut telah memiliki perias, Hernani terus meyakinkan agar diberi kesempatan.

“Saya bilang, biarkan saya merias. Saya ingin masyarakat tahu kalau saya juga bisa,” tuturnya.
Riasan pertamanya mendapat banyak pujian. Sejak saat itu, nama Tuti Salon menyebar dari mulut ke mulut hingga menjadi salah satu salon pengantin paling dikenal di Berau.

Namun membangun usaha bukan perkara mudah. Demi membeli perlengkapan, Hernani menjual gelang dan kalung emas miliknya. Ia membeli gaun pengantin, dekorasi pelaminan, hingga kursi resepsi sedikit demi sedikit. Sebagian besar bahkan merupakan barang bekas. “Saya beli apa yang sanggup dulu. Yang penting usaha bisa jalan,” katanya.

Keputusan itu sempat mengundang cibiran. Banyak yang meragukan usahanya karena menggunakan perlengkapan bekas. Namun bagi Hernani, cibiran bukan alasan untuk berhenti.
Kerja kerasnya berbuah manis. Selama hampir 3 dekade, ribuan pengantin mempercayakan momen sakral mereka kepada Tuti Salon.

Setiap menjelang Hari Kemerdekaan, rumahnya bahkan berubah menjadi tempat berkumpul puluhan anak yang akan mengikuti pawai. “Bisa sampai 60 anak menginap di rumah supaya pagi-pagi selesai dirias. Capek memang, tapi saya senang melihat mereka bahagia,” kenangnya.

Meski usahanya semakin besar, Hernani tak pernah menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Ia sering kali menurunkan tarif lebih dulu ketika mengetahui calon pelanggannya berasal dari keluarga kurang mampu.
“Saya lihat wajah mereka saja sudah tahu kalau sedang kesulitan. Yang penting anaknya tetap bisa menikah dengan layak,” ujarnya.

Prinsip sederhana itu membuatnya semakin dicintai masyarakat. Sekitar 10 tahun lalu, Hernani memutuskan pensiun dari dunia tata rias. Namun semangat berwirausahanya belum padam. Ia mencoba peruntungan di bidang properti dengan membangun 80 unit rumah di Sambaliung. Proyek tersebut berjalan baik hingga pandemi Covid-19 menghentikan pengembangannya.

Tak ingin berhenti berkarya, Hernani kemudian menemukan dunia baru melalui UMKM. Ia menciptakan beragam produk khas Berau, mulai dari keripik tempe, jilbab lukis, tas rajut berbahan karung goni, tas rotan, tas kulit sapi, hingga produk berbahan kain tenun dan kulit kayu.

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah ketika ia berhasil menyelesaikan 400 tas handmade hanya dalam waktu 21 hari untuk kebutuhan suvenir sebuah ajang olahraga. “Semuanya dibuat dengan tangan, bukan mesin. Jadi benar-benar dikerjakan siang malam,” katanya.

Karya-karyanya kini telah dipasarkan hingga Jakarta sebagai produk khas Berau. Di tengah kesibukannya, Hernani juga menghadapi ujian hidup. Hampir 10 tahun terakhir ia setia merawat sang suami yang sakit. Meski demikian, semangatnya untuk belajar dan berbagi tak pernah surut.

Ia aktif mengikuti pelatihan Dekranasda Berau, menjadi peserta pameran, hingga dipercaya sebagai narasumber pelatihan kerajinan.
Prestasi pun mengiringi perjalanan panjangnya. Hernani pernah menyabet berbagai gelar, di antaranya Juara I merias se-Kaltim, Juara I Rias Pengantin se-Kalimantan Timur, Juara Busana Kartini, serta gelar Ratu Kebaya Berau, yang semakin mengukuhkan kiprahnya di dunia seni dan tata rias. “Saya percaya selama masih diberi kesehatan, saya harus tetap berkarya,” ucapnya.

Bagi Hernani Astuti, usia hanyalah angka. Kreativitas tak pernah mengenal kata pensiun. Dari tangan yang dahulu merias ribuan pengantin, kini lahir karya-karya UMKM yang membawa nama Berau ke berbagai daerah.

Perempuan yang pernah menjual emas demi membeli perlengkapan salon itu membuktikan mimpi tak selalu dimulai dari modal besar. Kadang, mimpi lahir dari keberanian memulai, ketulusan membantu sesama, dan tekad untuk terus berkarya, apa pun usia yang dimiliki. (zul)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *