Modal Rp50 Ribu Omset Sepuluh Kali Lipat, Mukaroman Betah 16 Tahun Jajakan Tahu Gunting

BusamID
Mukaroman saat menerima seorang pelanggan untuk membeli tahu gunting miliknya. Ft by Ryan/Busam.Id

Samarinda, Busam.ID -Meski jatuh bangun merintis usaha jualan tahu gunting, terlebih saat pandemi Covid beberapa waktu lalu, Mukaroman seorang pria tangguh dengan empat anak, tak pantang menyerah. Dari punya kaki sepuluh rombong, sampai susut kini tinggal 4 rombong, Mukaroman tak patah arang. Ia dan anggotanya telaten menunggu rezeki di tempat keramaian. Tak terasa, sudah 16 tahun Mukaroman menemani jalan raya Kota Tepian dengan jajanan tahu guntingnya. Boleh dibilang, Mukaroman dapat bertahan dengan jualan tahu guntingnya, sebab modal yang diperlukan terbilang kecil. Dengan modal Rp50 ribu, Mukaroman mampu meraup omset antara 500 ribu – 700 ribu per harinya. Meski modal tipis ungkap Mukaroman, pekerjaan jualan tahu gunting yang 16 tahun dilakoninya, sarat tenaga dan kesabaran.

Mukaroman. Ft by Ryan/Busam.Id

Diwawancarai media ini, Mukaroman dengan pakaian lusuh menjawab sambil menjuali pembeli. Saat tersulit menurut Mukaroman, adalah ketika pandemi Covid berlangsung. Di mana omset yang diperolehnya terjun bebas.

Sebelum pandemi COVID-19 muncul, ia mengelola sepuluh rombong tahu gunting yang disebarnya ke seluruh penjuru Kota Samarinda.

“Dulu ya, sebelum COVID-19 ada 10 rombong yang saya miliki,” jelasnya.

Dengan hanya bantuan sepeda motor, ia mengelilingi tempat-tempat keramaian yang ada, dari depan sekolah, arena lomba dan pertunjukan, sampai ngetem di pasar malam.

Tahu gunting yang sudah siap dijual. Ft by Ryan/Busam.ID

Tak hanya dirinya yang diuntungkan, Mukaroman juga memberikan lapangan pekerjaan kepada sepuluh karyawan yang tersebar di berbagai titik kota. Dengan gaji 200 ribu per orang, setiap harinya omzet mencapai 6 juta rupiah.

Namun, ketika pandemi COVID-19 menerjang, angin berubah arah. Penurunan omzet yang drastis mendorongnya menjual enam rombong untuk menjaga keseimbangan pendapatan dan pengeluaran.

“Kini, sisa empat rombong yang jadi penopang usaha saya. Omzet sekarang hanya berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu, itu pun jika saat suasana ramai,” jelasnya.

Tidak hanya situasi yang berubah, harga bahan baku tahu gunting juga mengalami lonjakan yang signifikan. Harga per biji yang semula 300 rupiah kini melonjak hingga 600 rupiah.

Namun, semangat tidak pernah padam dalam diri Mukaroman. Ketika ditanya hingga kapan ia akan berjualan, ia dengan mantap menjawab bahwa ia akan terus berjuang selama ia mampu.

“Ya kami berharap pemerintah akan membuka peluang dengan menyediakan lokasi yang layak bagi penjual seperti dirinya, sehingga mencari nafkah bisa lebih terjamin,” papar Mukaroman.

Di balik segala perjuangannya, Mukaroman hanya mengeluarkan modal sekitar Rp 50 ribuan per hari. Biaya termasuk gas LPG 3 kg, bensin sepeda motornya, cabe rawit, dan kerupuk tahu gunting.

Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa semangat pantang menyerah dan kerja keras bisa mengatasi tantangan, bahkan ketika perubahan datang dengan kerasnya. (Ryan)

Editor : A Risa

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *