Samarinda, Busam.ID – Seorang ibu di Samarinda, Kalimantan Timur, mengadukan kasus penganiayaan yang dialami anaknya (12 tahun) kepada Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kaltim pada Kamis (26/10/23) malam.
Ketua TRC-PPA Kaltim, Rina Zainun, menjelaskan, bahwa ibu tersebut telah mencoba melaporkan insiden yang dialami anaknya kepada pihak sekolah.
“Kita dapat laporan jam 10 tadi, anaknya sendiri dianiaya hari Selasa, sekitar jam 5 sore sama 3 orang temannya. Sudah koordinasi dengan pihak sekolah. Namun, yang mengejutkan, infonya dari orang tua korban, pihaknya justru disalahkan oleh pihak sekolah dengan alasan bahwa korban memulai insiden tersebut dengan menangkap kaki salah satu dari 3 orang yang melakukan penganiayaan,” katanya.
Perdebatan pun terjadi di sekolah, dan ibu korban akhirnya pulang. Namun, tidak lama setelah itu, ibu tersebut memperoleh bukti CCTV yang mengungkap fakta lain.
Dalam rekaman CCTV tersebut, terlihat bahwa korban pertama-tama ditendang dan terjatuh, sehingga dia terpaksa memegang kaki anak yang lain, yang juga terjatuh.
“Dari orang tua korban, gara-gara anaknya kayak becanda gitu nyebut nama pacarnya yang mukul, tersinggung mungkin langsung diajak kelahi, adik dari korban yang kebetulan ada di TKP, juga sempat diancam dan dipukul 1 kali,” terangnya.
“Bahkan lebih mengkhawatirkan, rekaman tersebut menunjukkan adanya pemukulan pada bagian wajah korban yang menyebabkan luka cukup serius,” kata Rina.
TRC-PPA Kaltim segera merespons laporan ini. Mereka berencana untuk mendampingi keluarga korban dalam proses visum.
Selain itu, mereka juga berencana akan melakukan mediasi dengan pihak sekolah dan melibatkan anak-anak yang terlibat dalam penganiayaan ini.
“Namun, karena orang tua dari korban merasa bahwa keluhan mereka sebelumnya tidak diakomodir oleh pihak sekolah, mereka berencana untuk melanjutkan proses ini ke jalur hukum,” ungkap Rina.
Kasus ini mengundang perhatian TRC-PPA Kaltim karena menunjukkan bahwa masalah pembullyan anak masih ada di Kaltim, terutama di Samarinda.
Kejadian ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan, di tengah rencana Disdikbud Samarinda membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), sebagai antisipasi kasus pembulliyan di semua sekolah di Kaltim. (Ryan)
Editor : A Risa






