Samarinda, Busam.ID – Di tengah pembangunan kota Samarinda yang terus bergerak maju, Masjid Shirathal Mustaqiem tetap berdiri kokoh di tepian Sungai Mahakam. Bangunan dengan kayu ulin tersebut bukan hanya rumah ibadah, tapi juga saksi perjalanan dakwah yang telah berlangsung lebih dari seabad.
Sejak akhir abad ke-19, Masjid Shirathal Mustaqiem telah menjadi pusat aktivitas sosial dan keagamaan dengan arsitekturnya yang khas, mulai dari lantai, dinding, pilar, hingga atap sirap dari kayu ulin Karang Mumus dan Kutai Lama, membuatnya memiliki nilai historis dan kultural yang tinggi.
Berdiri seluas sekitar 625 meter persegi dan teras sepanjang 16 meter, bangunan ini kini ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi. Rehabilitasi pernah dilakukan 2001 di masa Wali Kota Achmad Amins, namun struktur utama tetap dipertahankan. Sebuah tugu di halaman masjid menjadi penanda upaya pelestarian itu.
Menurut pengurus masjid, Ishak Ismail, masjid dibangun 1881 oleh ulama sekaligus saudagar asal Pontianak, Said Abdurachman bin Assegaf atau Pangeran Bendahara. Kehadiran masjid menjadi titik awal transformasi sosial kawasan yang sebelumnya dikenal dengan praktik perjudian dan sabung ayam.
“Masjid ini dibangun untuk membimbing masyarakat kala itu. Perlahan syiar Islam tumbuh dan mengubah kultur masyarakat setempat,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Ia menyebut, 3 tokoh lainnya yaitu Kapitan Jaya, Pettaloncong, dan Lusulunna juga berperan penting dalam pembangunan. Nama mereka diabadikan melalui 4 soko guru, tiang utama masjid dengan diameter 60 sentimeter dan tinggi lebih dari 10 meter.
Ishak menceritakan, ada legenda turun-temurun tentang sosok tua berpakaian putih yang membantu mendirikan tiang-tiang itu secara misterius.
Lebih lanjut, pembangunan masjid berlangsung sekitar 1 dekade hingga rampung 1891. Menara masjid dibangun Belanda mualaf, Henry Dassen, dan peresmian dilakukan Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang juga menjadi imam pertama. Peristiwa itu menegaskan pengakuan Kesultanan Kutai terhadap masjid sebagai pusat syiar Islam di Samarinda Seberang.
Sudah lebih 100 tahun berselang, Masjid Shirathal Mustaqiem tetap terawat. Mihrab pertama, peti pemberian Henry Dassen, dan mushaf Al-Qur’an tulis tangan kuno masih ada. Prestasinya menembus tingkat nasional dengan meraih juara kedua Festival Masjid Bersejarah di Jakarta 2003. “Alhamdulillah, masjid ini tetap dikenal luas dan menjadi kebanggaan masyarakat,” tuturnya. (uca)
Editor: M Khaidir


