Rusman : Penyaluran Bisa Terukur Jika BKT Disalurkan Via Sekolah
Samarinda, Busam.ID – Pengucuran Beasiswa Kaltim Tuntas yang di tahap 2 periode 2021 mencapai RP75 miliar, mulai disoroti kalangan wakil rakyat, khususnya Komisi IV DPRD Kaltim yang membidangi dunia pendidikan. Rencananya untuk pengucuran berikutnya, BKT akan disalurkan via sekolah masing-masing, di mana pengaju menempuh jenjang pendidikannya. Hal itu berkaitan, kehawatiran BKT ternyata diselewengkan bukan untuk kepentingan pendidikan, mengingat selama ini pengucurannya langsung ke rekening pribadi pengaju.
Ketua Komisi IV Rusman Yaqub dikonfirmasi Kamis (16/12/21) tentang rencana evaluasi BKT membenarkan, pihaknya akan membahas kembali mekanisme penyaluran BKT di internal Komisi IV. Sebabnya, kekhawatiran BKT disalahgunakan bukan untuk kepentingan pendidikan individu pengaju. Terlebih setelah munculnya banyak protes terkait transparansi pengumuman penerima BKT yang lolos atau disetujui.
“Kami akan mengevaluasi BKT ini, terutama dalam hal mekanisme pengucurannya. Apalagi beberapa waktu lalu ada di antara pendaftar yang mengeluhkan keterlambatan dan transparansi pengumunan penerima BKT yang lolos. Dasar ini, kami di dewan akan membahas kembali BKT supaya tujuan pemberian beasiswa itu lebih mengenai sasaran,” papar Rusman.
Rusman menilai, jika BKT yang diberikan langsung ke individu pengaju, rawan disalahgunakan. Sehingga perlu media kontrol dalam hal ini yang dinilai tepat adalah pihak sekolah di mana pengaju menempuh pendidikannya.
“Dalam waktu dekat, Komisi IV akan undang Badan Pengelola Beasiswa Kaltim Tuntas (BP-BKT). Kami kaji dulu apa masalahnya. Nanti terlihat. Makanya perlu evaluasi,” imbuh Rusman.
Diluncurkan sejak 2019, eksistensi BKT diharap mampu meringankan biaya pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Benua Etam. Rusman membenarkan, jika saat ini masih sulit mengukur keberhasilan BKT membantu dunia pendidikan, khususnya individu siswa/mahasiswa yang mengajukan BKT. Lantaran BKT baru diluncurkan kurang lebih dua tahun.
“Memang perlu waktu untuk lihat hasilnya. Enggak bisa langsung dalam waktu singkat,” tambahnya.
Rusman juga menjelaskan bahwa beasiswa harus mempunyai alat kontrol. Sehingga bisa dilihat sejauh mana beasiswa dapat memberikan manfaat dalam peningkatan SDM siswa/mahasiswa. Terutama untuk penerima beasiswa kategori stimulan yang memang diperuntukkan bagi siswa di jenjang SD, SMP dan SMA..
“Paling mudah itu mungkin untuk mengukur beasiswa kerja sama dengan sekolah atau instansi pendidikan lain. Bisa juga disalurkan ke instansi pendidikan bersangkutan. Jadi tidak diterima langsung secara pribadi,” bebernya.
Dirinya cenderung setuju jika beasiswa langsung disalurkan ke pihak sekolah atau instansi pendidikan. Kendati demikian, harus disertai alat kontrol yang kuat untuk pengawasan penyaluran. Jika demikian, maka bisa lebih dikontrol dan mudah untuk dievaluasi.
“Transparansi nilai dan proses seleksi juga harus dievaluasi sebab ada komplain dari pendaftar/pengaju kalau dia tidak tahu alasan kenapa enggak lolos. Kami akan evaluasi semua. Mulai dari jumlah penerima, distribusi, sampai sistem penerimaannya,” pungkas Rusman. (aji/an)








