Samarinda, Busam.ID– Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memastikan ketersediaan bahan pokok penting (bapokting) menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah masih dalam kondisi aman. Meski demikian, sejumlah komoditas mulai mengalami kenaikan harga yang dipengaruhi meningkatnya biaya distribusi.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap stabilitas harga serta kelancaran distribusi kebutuhan pokok di pasaran.
Menurutnya, komoditas yang telah memiliki ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) seperti beras dan minyak goreng wajib dijual sesuai aturan pemerintah.
“Kalau terkait HET, semua komoditas yang ada HET-nya itu tidak boleh dijual di atas HET. Itu ketentuannya,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Jumat (22/5/2026).
Heni mengakui kenaikan harga sejumlah komoditas saat ini dipengaruhi meningkatnya biaya operasional distribusi, terutama akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).
“Kita sudah tahu harga BBM naik berapa persen. Sedangkan biaya distribusi itu salah satu komponennya adalah biaya bahan bakar. Ini juga sudah disuarakan oleh pedagang maupun distributor,” katanya.
Meski terjadi kenaikan harga di pasaran, ia menegaskan kondisi tersebut bukan disebabkan kelangkaan stok, melainkan meningkatnya komponen biaya distribusi barang ke daerah-daerah di Kaltim.
“Kenaikan ini bukan karena kelangkaan, tapi karena komponen penyusun harga jual salah satunya biaya transportasi,” tegasnya.
Untuk menekan biaya logistik, Pemprov Kaltim disebut telah mengedukasi distributor dan pedagang agar memaksimalkan penggunaan BBM subsidi dalam proses distribusi kebutuhan pokok.
“Kemarin kami edukasi distributor dan pedagang, kalau terkait kebutuhan umum dan bahan pokok diupayakan menggunakan solar subsidi supaya distribusi tidak terganggu,” ujarnya.
Secara umum, Heni memastikan pasokan kebutuhan pokok di Kalimantan Timur masih mencukupi. Bahkan, angka inflasi pada awal Mei disebut mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya.
“Inflasi awal Mei ini turun dibanding inflasi awal April. Artinya upaya pengendalian harga dan ketersediaan pasokan sudah berjalan sesuai harapan,” ucapnya.
Sementara itu, untuk komoditas daging sapi, Heni mengakui mulai terjadi kenaikan harga karena pasokan masih bergantung dari luar daerah serta dipengaruhi biaya distribusi.
“Khusus daging sapi, kebutuhan kita memang masih banyak bergantung dari luar daerah. Jadi ada kenaikan, tapi bukan karena barang langka,” katanya.
Berbeda dengan daging sapi, kebutuhan daging ayam di Kaltim disebut sebagian besar sudah mampu dipenuhi oleh produksi lokal.
“Kalau daging ayam kita sudah sekitar 80 sampai 90 persen bisa dipenuhi dari Kaltim sendiri,” jelasnya.
Ia menambahkan, produk daging beku kini juga menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan protein hewani dengan harga yang relatif lebih stabil.
“Sekarang produk daging beku juga bisa menjadi alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan daging,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu penjual di Pasar Segiri, Boy mengungkapkan lapaknya masih ramai pengunjung terlebih ada kenaikan harga, meskipun tidak signifikan.
“Alhamdulillah, stok tersedia menjelang Iduladha, meski harga agak naik, pengunjung sangat mengerti. Dan syukurnya, lapak saya tidak pernah sepi,” tutupnya.(Adit)
Editor: M Khaidir


