Samarinda, Busam. Id – Menjelang berakhirnya waktu pelaksanaan beberapa proyek Pemprov Kaltim, Komisi III DPRD Kaltim melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke empat pembangunan gedung berbeda di wilayah Kota Samarinda, Selasa (21/12/2021). Dari sidak ke empat proyek Pemprov itu, didapati nyaris semuanya mengalami keterlambatan. Penyebabnya hampir sama, faktor cuaca yang sudah masuk musim penghujan. Juga sejumlah alasan teknis berbeda sesuai kondisi di lapangan.
Tinjauan awal sidak Komisi III DPRD Kaltim mendatangi Gedung BPKAD Provinsi Kaltim di Jalan Kesuma Bangsa, dilanjutkan ke Gedung RS Mata di Jalan M Yamin, kemudian bergeser ke Gedung RS Korpri di Jalan Wahid Hasyim dan terakhir ke Gedung Inspektorat yang berada di Jalan Kadrie Oening.
Dijumpai awak media seusai melakukan sidak, Ketua Komisi III DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud menerangkan jika progress pembangunan RS Korpri mengalami keterlambatan dari jadwal. Dengan segala macam persoalan di lapangan, Politisi Golkar itu memahami permasalahan yang dialami kontraktor, salah satunya faktornya ialah musim penghujan.
“Ini karena curah hujan yang tinggi, bahan material yang susah dan seterusnya. Memang ini merupakan alasan yang selalu berulang. Namun mungkin ini juga karena keterlambatan pembahasan anggaran jadi dampaknya seperti saat ini,” ungkap Hasanuddin.
Menurutnya, keterlambatan pembangunan ini merupakan momen pertama yang didapati oleh Komisi III DPRD Kaltim. Hampir semua proyek mengalami keterlambatan disebabkan faktor cuaca.
Masalah lain temuan sidak Komisi III, diketahui ternyata ada gedung yang dibangun tanpa berkonsultasi dengan kemitraan.
“Ada satu gedung yang dibangun tanpa membicarakannya dengan kemitraan, sehingga berdampak terjadi keterlambatan,” jelas politisi asal Partai Golkar ini.
Oleh sebab itu, ia berharap agar ke depannya setiap pembangunan yang berhubungan dengan kemitraan dapat selalu membahasnya dengan kemitraan.
“Biar kita bisa membahasnya dari awal. Ini sudah setengah jalan. Intinya, nanti kita lihat hingga tanggal 28 Desember. Sebab curah hujan dan material ini sangat berpengaruh terhadap progres penyelesaian proyek,” ucapnya.
Menanggapi keterlambatan tersebut, Project Manager PT Telaga Paser Kuta yang menangani RS Korpri Erik Hermanus angkat bicara. Menurut Erik ada banyak faktor yang menjadi kendala pihaknya di lapangan. Pertama karena adanya perubahan panjang tiang pancang, yang awalnya 12 meter berubah menjadi 24 meter.

“Terjadi perubahan pancang itu karena tadinya lokasi pembangunan bukan di sini melainkan di Kesuma Bangsa. Maka saat dipindahkan dan lelang berjalan, akhirnya kita melakukan sondir test di daerah sini. Kita ketahui 24 meter sedangkan kontrak awal hanya 12 meter,” beber Erik.
Faktor kedua terang Erik, kondisi lahan berlumpur menjadi salah satu sebab keterlambatan pembangunan. Jadi pada saat pemancangan pun, pihaknya mengalami kendala di lapangan dengan kondisi tanah yang berlumpur bahkan sempat tergenang banjir.
“Ketiga, adanya kelangkaan material. Terakhir, adanya penambahan kontrak. Nilai awalnya Rp 43 miliar menjadi Rp 46 miliar,” terang Erik perihal keterlambatan proyek yang dikerjakan perusahaannya.
Mengenai kontrak, pihaknya mengajukan surat perpanjangan waktu pelaksanaan dan itu pun tidak banyak hanya 2 bulan saja.
“Dengan konsekuensi perubahan panjang tiang pancang, kami minta penambahan waktu 1 bulan. Sekarang kita sedang kejar progresnya, ini sudah 61,41 persen,” pungkas Erik. (aji/an)








