Samarinda, Busam.Id – Mengatasi kemacetan di kawasan Jl Otto Iskandardinata (Otista) Samarinda, Pemkot bermaksud membangun jalur terowongan yang akan menghubungkan Jl Kakap dan Jl Sultan Alimuddin.
Lokasi rencana pembangunan terowongan berdasarkan peninjauan Pemkot pada Agustus 2021 lalu, masih berada dalam kawasan pemukiman warga. Karena itu Pemkot sedang mempertimbangkan pembebasan lahan. Pembangunan terowongan itu sediri akan menggunakan skema pembiayaan tahun jamak atau multiyears contract (MYC). Pembangunan fisik jalur terowongan mulai ditargetkan pada 2022.
Dikonfirmasi Kamis (23/12/2021), Wali Kota Samarinda Andi Harun mengungkapkan, jika feasibility study (FS) terowongan sudah selesai. Secara teknis, berdasarkan hasil FS tersebut, maka lokasi yang direncanakan bisa dibangun terowongan. Dari hasil FS itu, ada 5 kegiatan yang dipaparkan sebagai final. Yakni survei geoteknik dan geofisika, analisis data lapangan, perencanaan basic struktur terowongan, penggambaran hasil terowongan dan perhitungan perkiraan biaya konstruksi terowongan. Sedangkan untuk aspek perencanaan terowongan ada 3. Yakni aspek geologi, geoteknik dan struktur.
“Visible itu artinya semua aspek sudah dihitung. Termasuk soal keamanan dari sisi aspek geologi, geoteknik dan struktur itu visible dibangun terowongan,” tegas Andi.
Lebih lanjut, Andi menjelaskan untuk estimasi sementara lamanya pekerjaan adalah paling lama 35 bulan sampai 2024. Namun, estimasi akan lebih pendek jika terjadi pengaruh terhadap penambahan alat dan jam kerja. Alhasil waktu pelaksanaan bisa kurang dari 35 bulan.
“Untuk biaya, jumlah total harga pekerjaan dibulatkan jadi Rp 419.669.459. Tahun 2022 ini, sudah kami alokasikan anggaran sebesar Rp 150 miliar untuk 2 kegiatan multiyears contract (MYC). Kalau untuk pengendalian banjir kurang lebih Rp 40 miliar. Sisanya untuk terowongan,” bebernya.
Meski ketersediaan lahan pembangunan terowongan bisa dikata sudah siap, ternyata Pemkot menghadapi sedikit kendala dalam hal ini. Yakni sebagian lahan yang harus dibebaskan terlebih dahulu, memerlukan biaya berkisar Rp20-30 Miliar. Untuk pembebasan lahan ini, pada 2022 nanti, terang Andi pihaknya sudah menganggarkan sebesar Rp 10 miliar.
“Secara teknis, jika terowongan selesai, maka kawasan itu akan kami jadikan ruang terbuka hijau (RTH). Di atas terowongan tidak boleh ada gangguan bangunan. Kecuali untuk kegiatan misalnya kebun atau RTH,” imbuhnya.
Terowongan terdiri dari beberapa bagian. Untuk non tunnel inlet (pintu masuk) panjangnya 155 meter. Kemudian masuk ke terowongan panjangnya 260 meter. Lalu bertemu dengan non tunnel open cut, panjangnya 60 meter. Masuk lagi ke terowongan dengan panjang 120 meter. Lalu untuk non tunnel outlet (pintu keluar) panjangnya 115 meter.
Terowongan yang akan hadir perdana di Samarinda ini nantinya memiliki lebar 12 meter dan tinggi 12 meter. Kemudian, bisa dilintasi dengan kapasitas 50 ton kendaraan dengan kecepatan 40-60 km per jam.
“Terowongan ini nanti 1 arah. Inlet-nya di Jalan Sultan Alimuddin dan outlet-nya di Jalan Kakap. Ini sudah mengarah ke pelaksanaan. Tahun 2022 sudah bisa dilelang,” jelas Andi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Samarinda, Hero Mardanus mengungkapkan bahwa laporan yang telah diberikan oleh pihaknya tidak ada revisi. Namun, Andi Harun meminta ditambah untuk titik-titik bor agar memperkuat kondisi di dalam tanah ketika dilakukan penggalian.
“Ini kan sudah ada hasilnya, aman, secara teknis tidak ada masalah. Kalau inlet tidak ada masalah. Outlet-nya ini yang banyak pemukiman. Sekarang masyarakatnya lagi didata,” terang Hero.
Tahun depan, pembebasan lahan akan dimulai. Mulai Januari sampai April. Sementara ini, Pemkot telah menganggarkan Rp 10 miliar untuk pembebasan lahan. Seiring berjalannya waktu, nominal itu pun akan bertambah.
“Kalau inlet-nya sudah beres di Jalan Sultan Alimuddin, kan tidak masalah itu dikerjakan. Rencananya memang kalau untuk pengerjaannya, dari Jalan Kakap akan dikerjakan. Dari Jalan Sultan Alimuddin juga dikerjakan,” tandasnya. (aji/an)



