Upaya Mediasi Berlanjut, Ibu Korban Bully Kukuh Proses Hukum

Busam ID
Ilustrasi pembullyan. Ft by Pinterest

Samarinda, Busam.ID -Kasus perkelahian antar pelajar di salah satu sekolah di Samarinda pada berita sebelumnya, terus menjadi sorotan.

Pihak Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kaltim telah berusaha untuk mengatasi konflik ini melalui mediasi dengan pihak sekolah, tetapi ibunda korban tetap mempertahankan pilihannya untuk mencari keadilan melalui jalur hukum.

Mediasi ini dilakukan dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat, (27/10/23), yang difasilitasi oleh pihak sekolah.

Pertemuan ini dihadiri oleh ibunda korban, serta keluarga dari tiga anak yang diduga terlibat dalam pemukulan tersebut.

Turut hadir dalam pertemuan ini adalah, Bhabinkamtibmas, Ketua RT domisili sekolah, serta tim dari Busam.ID.

Dalam pertemuan tersebut, ibunda korban mengungkapkan rasa sakit hatinya.

Menurutnya, pihak sekolah telah mengabaikan keluhannya dan terkesan menyalahkan anaknya. Dia merasa bahwa proses yang berlarut-larut ini telah membuatnya merasa terpinggirkan.

“Pihak sekolah terlalu lama merespon keluhan saya dan terkesan menyalahkan anak saya, tidak ada pemanggilan orang tua dari tiga anak yang lain. Makanya saya melapor ke TRC PPA Kaltim,” jelasnya.

Dalam pembahasan yang mengejutkan, salah satu ibu dari anak yang terlibat dalam pemukulan baru mengetahui tindakan anaknya setelah mendapat pemberitahuan dari pihak sekolah pada hari itu.

Ibu tersebut mengungkapkan kekagetannya,

“Saya kaget, saya baru dikasitau jam 11 siang ini kalau ada masalah ini, kalau anak kan tidak mungkin berani melapor ke saya. Harusnya pihak sekolah segera memanggil kami orang tua, kalau anak saya salah, ya salah, saya merasa gagal jadi orang tua,” katanya sembari menangis.

Dalam pertemuan tersebut, meskipun pihak kepala sekolah bersedia mengganti biaya pengobatan korban, yang mengalami patah gigi dan luka di tubuhnya, ibunda korban tetap kukuh pada pilihannya untuk melanjutkan melalui proses hukum.

Kepala Sekolah, yang mengakui kelambatan dan kurangnya respons dari pihak sekolah dalam menangani masalah ini.

“Kami berjanji bahwa kami akan menjadikan hal ini sebagai pelajaran berharga dan melakukan evaluasi untuk penanganan kasus serupa di masa depan,” kata Kepsek.

Dalam suasana yang masih tegang dan belum menemui titik temu damai, ibunda korban diberikan waktu 1-2 hari untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya yang akan diambil.

Kasus ini menyoroti pentingnya peran pihak sekolah dalam menangani kasus-kasus demikian dengan cepat dan bijak, sambil menjadikannya sebagai pengalaman pembelajaran untuk masa depan. (Ryan)

Editor : A Risa

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *