Samarinda, Busam.ID – Pemerintah Kota Samarinda meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya kebakaran semak kering dalam dua pekan terakhir.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengatakan sejak awal kemarau panjang dan kekeringan, Pemkot Samarinda telah meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai dampak yang ditimbulkan, termasuk karhutla.
Sejumlah langkah telah dilakukan, mulai dari penyiagaan personel pemadam kebakaran, patroli bersama TNI-Polri hingga koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait rencana modifikasi cuaca.
Namun, meningkatnya volume kebakaran dalam beberapa waktu terakhir membuat pemerintah kembali mengambil langkah tambahan. Salah satunya dengan mengoperasikan water bombing untuk membantu pemadaman dari udara.
“Dalam dua minggu terakhir ini ada volume kebakaran lahan semak kering yang meningkat, baik yang dari penyelidikan pihak Polri ada unsur disengaja maupun karena sebab lain,” ujar Andi Harun.
Menurutnya, Pemkot Samarinda kemudian mengajukan permohonan kepada BNPB agar mendapatkan dukungan tambahan dalam penanganan karhutla. Permohonan tersebut akhirnya disetujui dan operasi water bombing mulai dilakukan.
“Hari ini dikabulkan, kita mulai menerbangkan water bombing flight agar bisa menjadi satu kesatuan dari operasi kesiapsiagaan kita dalam penanggulangan karhutla di Kota Samarinda,” jelasnya.
Andi Harun menyebut operasi water bombing perdana dilakukan di kawasan Bantuas. Pesawat akan mengambil air dari void di kawasan tersebut untuk kemudian digunakan dalam pemadaman titik kebakaran.
Operasi direncanakan berlangsung hingga menjelang matahari terbenam sebelum pesawat kembali mendarat sekitar pukul 18.00 WITA. Setelah itu, efektivitas operasi akan dievaluasi bersama BNPB, TNI dan Polri.
“Tadi kami telah menerbangkan dan operasi pertama pada hari ini adalah ke daerah Bantuas. Nanti airnya diisi di daerah Bantuas, di void di sana, lalu insyaallah akan bekerja sampai before sunset,” katanya.
Meski operasi awal dilakukan di Bantuas, Andi Harun menegaskan penanganan tidak hanya difokuskan pada satu wilayah. Seluruh kawasan Samarinda akan masuk dalam peta operasi apabila ditemukan titik yang membutuhkan penanganan.
“Pada prinsipnya di semua area di Kota Samarinda akan menjadi peta operasi. Oleh sebab itu BPBD kita melekat terus dengan BNPB dalam rangka penanggulangan tersebut,” ungkapnya.
Ia berharap dukungan water bombing dapat memberikan dampak signifikan dalam mempercepat penanganan karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih kering.
Terkait status siaga darurat kekeringan dan kemarau panjang yang sebelumnya berlaku hingga 7 September, Andi Harun mengatakan Pemkot Samarinda masih melakukan evaluasi.
Perpanjangan status akan ditentukan berdasarkan kondisi di lapangan. Jika hujan belum turun dan situasi kekeringan masih berpotensi menimbulkan dampak lebih besar, status tersebut berpeluang kembali diperpanjang.
“Kalau dipandang perlu untuk melanjutkan status kedaruratan kekeringan dan kemarau panjang, ya kita akan melanjutkan sampai eskalasinya turun, mungkin bersama dengan mulai turunnya hujan,” tuturnya.
Menurut Andi Harun, peningkatan kesiapsiagaan tersebut diperlukan agar penanganan di lapangan dapat dilakukan secara maksimal.
“Selama hujan belum turun, maka kita kemungkinan akan melanjutkan status siaga darurat kekeringan dan kemarau panjang,” pungkasnya.(Adit/adv)
Editor: M Khaidir


