Samarinda, Busam.ID – Angka kematian ibu di Kalimantan Timur sepanjang Mei 2025 mencatat fakta mengejutkan: 26 kasus dalam satu bulan. Fakta ini menjadi sinyal peringatan serius bagi Pemerintah Provinsi Kaltim, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak.
“Setiap kasus kematian ibu adalah kehilangan besar. Ini menjadi indikator penting dalam peningkatan pelayanan kesehatan,” ucap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin saat dikonfirmasi, Minggu (8/6/2025).
Dari data Dinkes Kaltim, Samarinda dan Kutai Kartanegara menjadi wilayah paling tinggi dengan masing-masing 6 kasus. Disusul Balikpapan (4 kasus), lalu Paser, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu yang masing-masing mencatat 2 kasus.
Sementara Kutai Timur dan Berau mencatat angka lebih rendah. Kabar baiknya, Bontang dan Penajam Paser Utara nihil kasus kematian ibu bulan lalu.
Penyebab terbanyak kematian ibu didominasi oleh komplikasi non-obstetrik (42%), disusul hipertensi saat kehamilan dan persalinan (38%), serta perdarahan obstetrik (12%).
Jaya menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Dinkes Kaltim terus menggencarkan berbagai program pencegahan, mulai dari pemeriksaan kehamilan rutin, peningkatan kualitas layanan persalinan, hingga memperkuat sistem rujukan darurat.
Salah satu program unggulan adalah Audit Maternal Perinatal Surveilans Respons (AMP-SR), yang tidak hanya mencatat setiap kasus kematian, tetapi juga menganalisis penyebabnya untuk merumuskan tindakan konkret.
“Kami tidak hanya melihat angka, tapi juga akar masalahnya. Dengan AMP-SR, setiap kasus jadi bahan evaluasi menyeluruh agar bisa mencegah kematian serupa di masa depan,” tegas Jaya.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menekan angka kematian ibu secara signifikan dan menjaga keselamatan para ibu di Bumi Etam.(Adit/adv/diskominfokaltim)
Editor: M Khaidir


