Siswa SDN 013 Samarinda Belajar Lesehan, Disdikbud Malah Sebut Inovasi Sekolah

Busam ID
Siswa SDN 013 Samarinda menjalani KBM secara lesehan. Foto by Uca/Busam.ID

Samarinda, Busam.ID – Siswa SDN 013 Kecamatan Sambutan, Samarinda, menjadi perhatian setelah 6 bulan terakhir terpaksa belajar lesehan di lantai tanpa meja dan kursi (mebeler). Kondisi dinginnya lantai kelas bahkan disebut mulai berdampak pada kesehatan para murid.

“Semoga bisa dapat kursi meja secepatnya. Kasihan anak-anak, ada yang mengeluh masuk angin, perut kembung, dan sering izin sakit,” ujar salah seorang wali murid, Fitri.

Merespons hal itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Ibnu Araby, menilai langkah menempati ruang kelas kosong tersebut sebagai inovasi sekolah.

“Itu kan inovasi sekolah aja. Maunya sekolah kan seperti itu, ya tidak apa-apa, biarkan saja. Tapi ini akan menjadi perhatian kami bahwa mebelernya belum ada. Kalau masih ada yang lama dimaksimalkan dulu,” kata Ibnu, Kamis (4/6/2026).

Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana SD Disdikbud Samarinda, Amelia Indah, menambahkan gedung baru tersebut sebenarnya dilarang untuk digunakan terlebih dahulu.

Menurutnya, Disdikbud bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengeluarkan rekomendasi resmi agar pihak sekolah tetap menggunakan sistem belajar 2 shift (pagi dan siang) di gedung lama sambil menunggu pengadaan mebeler dari dana Bantuan Keuangan (Bankeu) 2026 yang saat ini masih berproses.

“Kami sudah menyampaikan kepada kepala sekolah agar jangan digunakan dulu, tetap gunakan ruangan lama dengan sistem 2 shift pagi dan sore. Kita akan panggil kepala sekolahnya untuk klarifikasi,” terangnya.

Terpisah, Guru Kelas III SDN 013 Samarinda, Dian Kuswoyo, menyebut pihak sekolah nekat menggunakan ruang kelas baru tersebut meskipun tanpa fasilitas meja dan kursi berdasarkan kesepakatan bersama dengan para orang tua murid.

“Dari semenjak bangunan ditempati memang tidak ada meja kursinya. Jadi orang tua karena pengin (anaknya) masuk pagi, kita sepakat membawa alat meja lipat dari rumah,” terang Dian.

Kendati demikian, Dian mengakui metode belajar lesehan beralaskan meja lipat ini membuat proses transfer ilmu di dalam kelas tidak berjalan secara maksimal. “Kalau namanya duduk di bawah ini kurang maksimal, tidak leluasa kalau ada kegiatan. Anak-anak jadi cepat jenuh karena duduk di bawah, cepat lelah,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *