Kemarau Panjang, Sudah 10 Hari Warga Bantuas di Samarinda tak Mendapat Aliran Air Bersih

Busam ID
5.000 Liter air PDAM didistribusikan ke warga Jalan Kampung Tengah RT 04, Bantuas, Palaran, Jumat (4/9/2026) sore. Foto by Zulkarnain

Samarinda, Busam.ID – Kemarau panjang mulai membawa berdampak serius bagi warga di sejumlah wilayah Kota Samarinda. Tak hanya membuat sumber air mengering, intrusi air laut bahkan membuat air Sungai Mahakam di kawasan tertentu mulai terasa asin.

Kondisi ini dirasakan warga Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran. Warga di kawasan dataran tinggi mengaku sudah lebih dari 10 hari kesulitan mendapatkan aliran air bersih dari PDAM.

Bahkan, selama sekitar sepekan terakhir, air yang tersedia pada waktu tertentu mulai terasa asin sehingga tidak lagi bisa diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Ratnawati, warga Jalan Kampung Tengah RT 04 Kelurahan Bantuas, Jumat (4/9/2026) mengatakan dampak kemarau sangat dirasakan masyarakat, terutama dari sisi ekonomi.

Menurutnya, warga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena aliran PDAM tidak kunjung normal. “Kalau di daerah kami yang dataran tinggi ini lebih dari 10 hari tidak mengalir. Kami terpaksa beli air,” ujar Ratnawati.

Sebelum mendapatkan bantuan pemerintah, warga juga berusaha memenuhi kebutuhan air menggunakan mesin penyedot atau alkon. Namun, upaya tersebut kini terkendala karena air yang tersedia mulai terasa asin. “Sudah sekitar 1 minggu air asin masuk. Biasanya siang, kalau pagi belum,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan. Air dalam tandon berkapasitas sekitar 1.200 liter bahkan disebut dapat mencapai harga sekitar Rp100 ribu.

Di Kelurahan Bantuas sendiri, warga masih berharap ada solusi jangka panjang. Salah satu opsi yang sedang dijajaki adalah pemanfaatan air dari bekas area tambang dengan terlebih dahulu memastikan kualitas dan tingkat keasamannya aman untuk disalurkan kepada masyarakat.

Ratnawati berharap hujan segera turun sehingga krisis air yang terjadi tidak semakin meluas.
“Semoga cepat teratasi dan turun hujan. Kami bersyukur pemerintah cepat merespons. Kemarin kami melapor, hari ini sudah ada tindakan,” tuturnya.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kota Samarinda bergerak cepat mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan penanganan krisis air dilakukan bersama sejumlah instansi, di antaranya PDAM, PUPR, BPBD, Damkar termasuk PMI.

Sekitar 16 mobil tangki dikerahkan untuk mendistribusikan air bersih ke sejumlah titik, terutama wilayah Kecamatan Sambutan dan Palaran yang terdampak kekeringan serta intrusi air laut.

Berdasarkan rekap BPBD, hingga 4 September 2026, sebanyak 58 tangki air telah didistribusikan dengan total mencapai 298.500 liter.
“Yang kita bantu sekarang tidak hanya pelanggan PDAM. Non-PDAM juga kita bantu ketika air bersihnya mengalami krisis,” kata Suwarso.

Bahkan, informasi mengenai warga yang membutuhkan air bersih dapat disampaikan melalui RT, lurah, maupun posko kedaruratan BPBD untuk segera ditindaklanjuti.

Suwarso juga menegaskan air bantuan tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi, seperti minum dan memasak. Sementara kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus atau MCK menggunakan sumber air lainnya. (zul)
Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *