Samarinda, Busam.ID – Tumpukan sampah dan kayu berukuran besar di kawasan Teras Samarinda tahap 2 menjadi perhatian Wali Kota Samarinda, Andi Harun (AH). Tak ingin menggunakan anggaran daerah hingga ratusan juta rupiah, pembersihan kawasan tersebut dilakukan dengan pola gotong royong.
AH meninjau langsung kawasan Teras Samarinda tahap 2, Jumat (4/9/2026), bersama jajaran Asisten II, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta tim terkait.
Dalam peninjauan tersebut, dia menyebut sebelumnya DLH telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) terkait rencana pembersihan sekaligus pengurangan sedimentasi di kawasan tersebut.

Hasil perhitungan awal, pekerjaan itu diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp800 juta. Namun, setelah melihat langsung kondisi di lapangan, Andi Harun menilai pekerjaan tersebut tidak harus dimasukkan ke dalam proyek APBD.
Menurutnya, pembersihan dapat dilakukan secara bertahap melalui gotong royong dengan mengerahkan personel dan peralatan yang sudah dimiliki pemerintah.
“Untuk apa kita keluarkan Rp800 juta. Setelah saya pelajari dari ujung ke ujung, ini cukup dengan mekanisme gotong royong,” ujarnya.
Ia memperkirakan kebutuhan biaya pembersihan secara gotong royong jauh lebih kecil, bahkan diperkirakan sekitar Rp50 juta hingga maksimal Rp100 juta.
Pembersihan akan dilakukan secara rutin, terutama akhir pekan. Sampah plastik hingga kayu berukuran besar akan disisir dan diangkut secara bertahap.
“Kayu-kayu besar nantinya akan dipotong terlebih dahulu menggunakan mesin senso agar lebih mudah diangkat dan dipindahkan,” ujarnya.
AH menegaskan, pekerjaan tersebut tidak harus selesai dalam waktu singkat. Yang terpenting, setiap pekan harus ada progres pembersihan. “Kalau 1 bulan bisa dikerjakan, 1 bulan. Kalau 2 bulan tidak apa-apa. Yang penting tiap minggu ada progres,” tegasnya.
Pelaksana Tugas Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pihaknya telah menyiapkan personel dan peralatan untuk mendukung arahan tersebut.
Menurutnya, DLH bersama tim terkait memiliki mesin senso serta kapal pengangkut yang dapat digunakan untuk membersihkan dan mengangkut material kayu maupun sampah dari kawasan tersebut.
Pembersihan juga akan dilakukan secara bertahap mulai dari kawasan Sungai Karang Mumus sekitar Pasar Pagi hingga kawasan Pelabuhan Pelindo.
“Kayunya kita potong-potong, kita angkat secara bertahap. Dan itu rutin, tidak berhenti sehari,” kata Suwarso.
Ia bahkan berharap waktu tertentu seluruh perangkat daerah dapat dilibatkan dalam aksi bersih-bersih secara bersama-sama, misalnya sebulan sekali maupun melalui kegiatan khusus.
Di sisi lain, AH mengingatkan masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan Teras Samarinda yang kini mulai ramai dikunjungi warga setelah dibuka. Ia mengaku masih menemukan pengunjung yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
Menurutnya, pembangunan fasilitas publik harus diikuti kesadaran bersama untuk merawatnya. “Fasilitasnya sudah ada, mari kita jaga kebersihannya sama-sama,” pungkasnya. (zul)
Editor: M Khaidir


