Samarinda, Busam.id – Di tengah pesatnya perkembangan kota Samarinda, masih ada kisah yang mengharukan. Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun hidup sebatang kara di tengah sebuah kebun yang jauh dari pemukiman.
Kabar ini disampaikan oleh Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, yang menyoroti kenyataan tragis ini.
Anak tersebut, menurut Rina Zainun, merupakan korban dari perceraian orang tuanya semenjak kecil dari lahir.
“Dan ada konflik antara orangtua hingga sering di pingpong kesana kemari oleh pihak keluarga sehingga tidak terperhatikan secara tumbuh kembang, serta kasih sayang,” paparnya.
“Yang membuat situasi ini semakin menyedihkan adalah bahwa anak tersebut tinggal di tengah kebun, hanya dengan tenda camping seadanya berukuran sekitar 2×2 meter,” kata Rina.
Ia mengungkapkan bahwa banyak pihak, termasuk pihak sekolah, gurunya, warga setempat, dan guru di majelisnya, telah berupaya untuk membantu anak tersebut.
“Namun, anak ini tampaknya enggan merepotkan orang lain dan lebih memilih untuk hidup dalam kondisi yang sulit ini. Jadi warga, pihak sekolah yang setiap hari membantu memberikan anak itu makanan,” jelasnya.
Kasus ini mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi oleh beberapa anak di tengah perkembangan kota yang pesat. Peran masyarakat dan pihak berwenang dalam memberikan perlindungan dan perhatian kepada anak-anak yang rentan sangat penting.
“Kami dari TRC PPA Kaltim, berharap semoga kasus ini dapat menginspirasi tindakan lebih lanjut untuk memastikan bahwa anak-anak yang memerlukan bantuan dan perlindungan mendapatkan perhatian yang layak untuk masa depan yang lebih baik,” tutup Rina. (RYAN)
Editor: Tri W








