Samarinda, Busam.ID – Desa Muara Kaman Hulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, tengah menghadapi tantangan dalam pertanian cabai, namun ada upaya positif yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Sekretaris Kelompok Putra Tani, Roni Tumiansyah, mengungkapkan bahwa penyakit pada tanaman cabai di desanya disebabkan oleh kondisi tanah yang terkontaminasi bahan kimia.
Namun, ia juga menekankan bahwa ini adalah kesempatan untuk beralih ke praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
“Penyakit cabai itu dipengaruhi oleh tanah yang terkontaminasi bahan kimia, dan residu kimia dapat merusak jaringan di dalam tanah,” jelas Roni pada Jumat (22/11/2024).
Meski demikian, ia mengajak para petani untuk bertransformasi dengan menggunakan metode yang lebih alami, seperti pupuk organik dan rotasi tanaman, guna memulihkan kualitas tanah. Menurut Roni, penggunaan bahan kimia secara berlebihan dalam jangka panjang berdampak buruk bagi kesuburan tanah dan kualitas hasil panen.
Oleh karena itu, ia mengimbau agar petani mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dan mulai mengadopsi metode yang lebih ramah lingkungan untuk mempertahankan keberlanjutan pertanian. Roni juga berharap agar pemerintah dan lembaga terkait lebih banyak memberikan edukasi kepada para petani tentang pentingnya menjaga kesehatan tanah.
Dengan menjaga kualitas tanah, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus menghindari dampak buruk bagi ekosistem. Kelompok Putra Tani optimis bahwa dengan langkah-langkah yang tepat, pertanian cabai di Desa Muara Kaman Hulu dapat terus berkembang tanpa merusak ekosistem tanah.
“Jika tanah kita sehat, hasil pertanian juga akan lebih baik,” pungkasnya. (bing/adv/distanakkukar)
Editor: Lisa


