Samarinda, Busam.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim memperkuat strategi penanggulangan Tuberkulosis (TB) dengan menitikberatkan pelayanan kesehatan hingga ke tingkat desa. Langkah ini dinilai penting untuk menekan penyebaran penyakit dari lingkup keluarga.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan, program eliminasi TB menjadi prioritas nasional yang harus dijalankan secara serius, mengingat Indonesia saat ini berada di posisi kedua penyumbang kasus TB terbanyak di dunia setelah India.
“Program prioritas Presiden ini harus dijalankan dengan serius karena posisi Indonesia masih sangat tinggi dalam kasus TB,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, setiap kabupaten/kota di Kaltim didorong memiliki desa percontohan yang dilengkapi kader kesehatan terlatih serta sistem pelaporan yang terintegrasi.
Menurutnya, edukasi menjadi kunci utama dalam pencegahan. Pasalnya, satu penderita TB aktif yang tidak diobati berpotensi menularkan penyakit kepada lima hingga sepuluh orang dalam satu rumah.
Selain itu, pasien TB aktif diwajibkan menjalani pengobatan secara disiplin selama enam hingga 12 bulan. Upaya ini penting untuk memastikan kesembuhan sekaligus memutus rantai penularan.
“Seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah juga harus menjalani skrining, baik melalui rontgen maupun tes dahak,” jelasnya.
Kelompok keluarga yang berisiko tersebut juga dianjurkan menjalani terapi pencegahan TB, meskipun di lapangan masih ditemukan penolakan dari masyarakat yang merasa dalam kondisi sehat.
Untuk mempermudah akses layanan, sebanyak 188 puskesmas di Kaltim telah diminta tidak mempersulit administrasi. Masyarakat cukup membawa KTP untuk mendapatkan layanan skrining secara gratis.
Di sisi lain, Pemprov Kaltim juga membentuk tim percepatan penanggulangan TB yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta, masyarakat, hingga lembaga filantropi.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat sekitar 1,09 juta kasus TB di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebagian besar telah mendapatkan pengobatan pada 2025, namun masih ada ratusan ribu kasus yang belum terdeteksi.
Sebagai langkah percepatan, pemerintah pusat juga membentuk ribuan desa siaga TB di sejumlah provinsi prioritas pada 2026, khususnya di wilayah yang belum mencapai target penanganan secara menyeluruh.
Dinkes Kaltim berharap penguatan layanan hingga tingkat desa ini mampu mempercepat eliminasi TB sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pengobatan tuntas. (Adit)
Editor: M Khaidir


