Samarinda, Busam.ID – Proyek Terowongan Selili Samarinda yang dibangun sejak 2023 dengan anggaran awal Rp395 miliar untuk mengurai kemacetan di kawasan Gunung Manggah hingga kini belum juga bisa digunakan masyarakat luas. Setelah melewati berbagai kendala teknis dan longsoran, pengoperasian terowongan disebut masih menunggu proses administrasi.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan pertanyaan soal kapan terowongan dibuka wajar disampaikan masyarakat. “Biasanya kalau pekerjaan selesai, langsung dipakai. Tapi untuk terowongan ini memang ada tahapan yang harus dilalui,” ujarnya usai meninjau langsung progres perbaikan longsor di terowongan, Senin (2/3/2026).
Deni menyebut, berdasarkan paparan kontraktor, pengoperasian masih menunggu penerbitan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Per 31 Desember 2025, terdapat perubahan SOP pengajuan di kementerian. Jika sebelumnya hanya sebatas izin uji kelayakan, kini harus langsung memenuhi persyaratan administrasi untuk memperoleh SLF dengan tambahan dokumen pendukung.
“Mudah-mudahan saat Lebaran nanti bisa trial dulu, supaya masyarakat tahu bahwa ini memang aman dan layak,” katanya.
Plt Kepala Dinas PUPR Samarinda, Hendra Kusuma, menyebut secara kasat mata kondisi terowongan dinilai layak. Namun pengoperasian tetap harus menunggu izin administratif dari kementerian. “Kalau dilihat secara fisik layak. Tapi kita tidak bisa mengabaikan bahwa harus ada izin secara administratif. Itu sedang berproses,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan aturan di akhir 2025 membuat dokumen persyaratan bertambah sehingga membutuhkan waktu untuk dipenuhi. Pihaknya mengikuti timeline dari kementerian dan belum dapat memastikan kapan sertifikat terbit. “Kami mohon masyarakat bersabar karena prosesnya harus sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya. (uca)
Editor: M Khaidir


