Samarinda, Busam.ID — Sejumlah awak media mendatangi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 013 Samarinda Utara, Sabtu (24/1/2026) pagi, guna mengonfirmasi dugaan praktik pemerasan yang mencatut nama wartawan. Kepala SDN 013 Samarinda Utara, Rasidi, membeberkan kronologi kejadian tersebut dengan nada tegas namun tetap tenang.
Rasidi mengungkapkan, dirinya dihubungi seseorang melalui pesan WhatsApp yang mengaku sebagai wartawan dari sebuah media. Dia meminta sejumlah uang disertai ancaman akan memberitakan dugaan penyimpangan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah Nasional (BOSNAS) dan BOS Daerah (BOSDA).
“Awalnya dia meminta Rp10 juta, kemudian turun menjadi Rp2 juta, lalu Rp400 ribu, hingga terakhir Rp200 ribu,” ujar Rasidi kepada awak media di ruang kerjanya.
Menurut Rasidi, permintaan uang tersebut tidak disertai alasan yang jelas. Oknum itu berdalih uang diminta untuk “membackup” atau menutupi dugaan penyimpangan dana sekolah. Padahal, Rasidi menegaskan bahwa pengelolaan dana BOS tidak dilakukan secara pribadi, melainkan melalui tim dan mekanisme yang telah diatur.
“Saya bilang silakan saja kalau mau mengangkat berita. Mau diangkat yang mana? Karena saya tidak mengelola sendiri, semua ada tim,” tegasnya.
Kecurigaan Rasidi semakin kuat lantaran identitas pengirim pesan berubah-ubah. Nama kontak sempat tertulis “Warsidi”, kemudian dihapus dan diganti menjadi “Rarsidi”, dengan keterangan Kepala Sekolah SD 013 Samarinda Utara. Saat ditanya identitasnya, oknum tersebut hanya mengaku bernama “Agus” dan mengklaim berasal dari sebuah media tanpa kejelasan.
“Saya minta dia datang langsung ke sekolah supaya jelas siapa orangnya. Tapi sampai jam 9 pagi yang dijanjikan, orangnya tidak pernah datang,” ungkap Rasidi.
Ia menilai terdapat indikasi kuat upaya pemerasan, meskipun nominal yang diminta pada akhirnya tidak besar. “Indikasi memeras itu ada. Walaupun jumlahnya kecil, caranya yang tidak benar,” tambahnya.
Atas kejadian tersebut, Rasidi mengimbau para kepala sekolah dan tenaga pendidik agar lebih waspada jika menerima telepon atau pesan dari pihak yang mengaku wartawan.
“Tanggapi dengan bijak, jangan terburu-buru memberi apa yang diminta. Jika ada unsur ancaman, lebih baik dihentikan. Kalau perlu, minta datang langsung, nyalakan kamera, supaya kita tahu wajah dan identitasnya,” imbaunya. (zul)
Editor: M Khaidir


