Samarinda, Busam.ID – Miris, seorang siswi Sekolah Dasar (SD) Negeri 002 di Samarinda Seberang ini diduga mendapatkan perlakuan yang kurang pantas dari Wali Kelasnya.
Siswi berinisial MF (10) itu diusir saat ujian di kelasnya, Senin (30/55/2022) lalu, lantaran selama ini MF dianggap tidak pernah mengikuti pembelajaran dengan sistem online selama satu tahun terakhir ini.
Keterbatasan ekonomi dan kurangnya informasi yang didapat karena pandemi covid-19 sehingga tampaknya MF tak memiliki HP untuk belajar online tersebut. Dan selama itu lah, MF tidak pernah mengikuti pembelajaran secara online yang diterapkan oleh sekolahnya.
Kejadian tersebut diketahui saat Muhammad Kadir Jailani alias Memet (28) Relawan Rumah Makan Gratis menemukan MF di pinggir jalan sambil menangis sekitar sepekan yang lalu.
“Waktu itu saya tanya, kenapa menangis de? Dia bilang diusir dari kelas,” ungkap Memet.
Atas permasalahan itu, Memet beserta Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kalimantan Timur dan para awak media langsung mendatangi pihak sekolah dengan tujuan mengkonfirmasi kebenaran dari informasi tersebut.
Namun sayangnya kedatangan mereka disambut sikap kurang sopan oleh pihak sekolah dan beberapa oknum Guru yang mengatakan masalah tersebut lama sudah selesai.
“Ngapain ini ramai-ramai bawa wartawan segala. Kan permasalahannya sudah selesai,” kata Risna, yang merupakan Wali Kelas dari MF.
Saat dikonfirmasi dengan Kepala Sekolah SDN 002 Sarban, dirinya mengaku belum mengetahui permasalahan yang terjadi, karenanya dirinya secara khusus akan memanggil Guru yang bersangkutan.
“Kita akan panggil oknum Gurunya, yang jelas kita akan terus berikan haknya dan anak ini harus tetap sekolah,” ujar Sabran.
Saat Tim TRC-PPA, wali murid dan awak media masih berbincang dengan Kepala Sekolah di ruang kerjanya, tiba-tiba datang seseorang berkemeja hitam dan mengaku salah seorang Guru, lantas berbicara dengan nada tinggi kepada Tim TRC-PPA, wali murid dan khususnya kepada awak media.
“Ada apa ini ramai-ramai sambil rekam-rekam? “ujar Guru itu dengan nada tinggi.
Tak berselang lama, sekelompok oknum Guru juga ikut menyoraki awak media dengan mengatakan, wartawan tidak pernah menjadi guru sehingga tak mengetahui permasalahan sebenarnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Samarinda Asli Nuryadin saat dihubungi mengaku belum mengetahui permasalahan yang terjadi.
“Saya akan konfirmasi ke Kepala Sekolahnya dulu ya,” ujarnya singkat.
(dic) – Redaksi BusamID








