Samarinda, Busam.ID – Aktivitas siaran langsung (live) media Busam.ID berujung ketegangan dengan petugas keamanan di Pasar Pagi Samarinda, Selasa (11/8/2026). Insiden tersebut dilakukan oknum Sekuriti itu insial PJ yang diduga melontarkan ucapan “media busuk” terhadap reporter Busam.ID, RH, saat sedang melakukan live.
RH menceritakan, kejadian bermula sekitar pukul 13.00 Wita. Saat itu, ia bersama 2 orang timnya sedang menjalankan tugas melakukan live untuk melihat dan menyampaikan kondisi terkini Pasar Pagi kepada masyarakat.
Menurut RH, keputusan melakukan live di Pasar Pagi itu sendiri berangkat dari permintaan penonton Busam.ID yang selama ini kerap menanyakan perkembangan aktivitas di pasar tersebut. “Penonton Busam.ID sering meminta supaya kondisi Pasar Pagi dilihat langsung, apakah sudah mulai ramai atau masih sepi. Karena itu saya berinisiatif untuk live,” ujar RH.
Dari area parkir dab lantai 1. Ia mengaku saat itu tidak ada sekuriti yang melarang maupun menegurnya. Bahkan, sejumlah pegawai Dinas Perdagangan yang berada di lokasi disebut melihat aktivitas live tersebut, karena dirinya memang bukan pertama kali melakukan live.
Setelah dari lantai 1, RH melanjutkan live ke lantai 2 dan 3. Sejumlah penonton bahkan disebut menanyakan lokasi pedagang pakaian. Dari sepanjang berada di lantai 2 dan 3, tidak ada sekutiti yang menghentikan aktivitasnya. Sehingga dia pun melanjutkan live ke lantai 4, tempat sejumlah pedagang perhiasan emas berjualan.
Tiba-tiba dia dihampiri seorangsekuriti dari belakang. Petugas tersebut menanyakan asalnya dan apakah sudah mengantongi izin untuk melakukan live. RH kemudian menjelaskan dirinya merupakan reporter media dan aktivitas yang dilakukan merupakan bagian dari tugas jurnalistik.
RH mengaku mempertanyakan alasan kewajiban izin tersebut karena selama beberapa kali melakukan live sebelumnya tidak pernah mendapatkan teguran. Ia juga menegaskan dirinya tidak sedang melakukan wawancara terhadap pedagang maupun mengambil informasi secara khusus. RH menyebut aktivitasnya lebih kepada berkeliling dan memperlihatkan kondisi pasar kepada masyarakat.
Situasi kemudian semakin ramai setelah beberapa petugas keamanan lainnya ikut berdatangan. “Saya merasa seperti dikerubungi. Saya merasa seperti diperlakukan seperti maling, padahal saya sedang live dan hanya memperlihatkan kondisi pasar,” ungkapnya.
Dan di sini lah oknum sekuriti bernama PJ melontarkan ucapan yang membuat suasana semakin memanas. “Media busuk,” demikian ucapan oknum itu.
RH kemudian meminta petugas tersebut mengulangi perkataannya sekaligus menanyakan identitasnya. Namun, menurut RH, petugas tersebut justru menutupi identitasnya sambil terus terlibat perdebatan.
“Saya langsung bilang, ‘Kamu bilang apa tadi? Tolong ucapkan sekali lagi.’ Karena saya merasa tempat kerja saya dikatakan seperti itu,” tuturnya.
Hingga berita ini ditulis, awak media Busam.ID masih berupaya meminta klarifikasi kepada pihak sekuriti terkait insiden tersebut.
Namun, petugas yang ditemui mengaku tidak mengetahui secara langsung kejadian tersebut. Mereka menyebut insiden berlangsung di shift pagi, sedangkan petugas yang ditemui awak media merupakan personel shift sore.
Harus Duduk Bersama
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani mengatakan, pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan siapa yang berada di pihak yang benar maupun salah. Menurutnya, persoalan tersebut perlu didengar secara langsung dari kedua belah pihak agar tidak berkembang menjadi kesalahpahaman.
Yama – sapaan akrabnya – mengaku telah melihat rekaman kejadian yang beredar di media sosial. Namun, ia memilih tidak menjadikan video tersebut sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil kesimpulan.
“Saya melihat rekaman videonya lewat media sosial. Tapi saya tidak langsung menyalahkan siapa pun. Saya ingin mendengar secara langsung dari berbagai pihak, termasuk dari keduanya,” ujar Yama, Selasa (11/8/2026) di ruang kerjanya saat ditemui awak media.
Sebagai langkah penyelesaian, Disdag berencana mempertemukan pihak media dengan pengelola Pasar Pagi. Pertemuan tersebut dinilai penting untuk menyamakan pemahaman terkait mekanisme peliputan di kawasan pasar.
“Rencana saya, sebaiknya kita bertemu untuk mendudukkan persoalannya. Bisa jadi ada SOP kami, ada SOP dari pihak media yang belum ketemu. Jadi kita sinkronkan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan, tidak ada larangan bagi wartawan untuk melakukan peliputan di Pasar Pagi. Hanya saja, komunikasi dengan pengelola diperlukan, terutama apabila peliputan dilakukan di area tertentu yang memiliki pembatasan akses karena alasan keamanan.
Menurut Yama, komunikasi tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk perizinan untuk menghalangi kerja jurnalistik. Pengelola perlu mengetahui aktivitas peliputan agar dapat memberikan informasi mengenai area yang aman maupun yang masih dalam proses perbaikan.
“Ini bukan soal izin dalam arti harus bersurat. Paling mudah berkomunikasi. Sampaikan mau meliput apa, karena kami juga harus tahu. Jangan sampai wartawan masuk ke area yang sedang dikerjakan kemudian terjadi sesuatu,” katanya.
Di sisi lain, terkait kemungkinan sanksi terhadap petugas keamanan yang diduga mengeluarkan ucapan tersebut, Yama menjelaskan personel sekuriti merupakan tenaga dari pihak ketiga. Sehingga, kewenangan terkait sanksi berada pada manajemen perusahaan penyedia keamanan.
“Keamanan itu bukan di kami, tapi pihak ketiga. Mereka punya manajemen dan SOP sendiri. Ini menjadi bagian dari kami untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang ada,” ungkapnya.
Yama menambahkan, pihaknya juga telah menerima informasi mengenai persoalan tersebut melalui grup komunikasi internal. Namun, ia tetap memilih mempertemukan kedua pihak sebelum menentukan langkah lebih lanjut.
“Saya tidak mau hanya mendengar dari satu pihak. Makanya saya mencoba berkomunikasi dengan Busam.ID supaya kita duduk bersama,” tegasnya. (zul)
Editor: M Khaidir


