Positif Malaria Capai 1.504, Pemprov Kaltim Terus Upayakan Pemberantasan

BusamID
Ilustrasi, foto by Dirjen Kefarmasian

Samarinda, Busam.ID– Meski Malaria masih berstatus endemi di Indonesia. Namun di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sendiri masih terdapat kasus positif di beberapa wilayah, terutama yang paling banyak yakni Kutai Timur (Kutim) dan Penajam Paser Utara (PPU).

Disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Setyo Budi Basuki, ia mengungkapkan data positif malaria di Kaltim pada 2022 terdapat 3.263 penderita dengan kasus meninggal sebanyak 10 orang. Sedangkan untuk Januari hingga Juni 2023, terdapat 1.504 penderita dan empat orang meninggal dunia karena penyakit malaria.

Meski demikian, terdapat lima kabupaten atau kota yang sudah memiliki sertifikat bebas malaria. Seperti Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Mahakam Ulu.

Pihaknya menyebut, sebagai upaya untuk terus memberantas malaria di Kaltim perlu dilakukan beberapa cara. Diantaranya, pekerja di wilayah hutan agar melakukan screening supaya tidak membawa parasit penyebab malaria. Karena, parasit penyebab malaria berhabitat di hutan dan rawa-rawa. Jika orang tersebut terdeteksi positif malaria, maka orang tersebut dilarang untuk berkegiatan di wilayah itu.

Kemudian, kegiatan yang ada di hutan maupun perkebunan, dianjurkan melakukan koordinasi dengan puskesmas setempat agar dilakukan pemeriksaan. Setelah berkegiatan dari hutan pun harus dilakukan pemeriksaan. Agar jika terdapat kasus positif, maka dapat segera dilakukan penanganan dan isolasi.

“Saya berharap agar masyarakat dan pemerintah bisa bersama-sama memecahkan masalah ini. Termasuk teman-teman dari industri perkebunan dan perhutanan,” harapnya.

Lebih lanjut Setyo memaparkan penanganan malaria yang lambat dapat menghilangkan nyawa seseorang. Karena malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit. Parasit tersebut akan menggerogoti sel darah merah di dalam tubuh manusia. Yang menyebabkan hemoglobin menjadi turun. Sebabnya, penderita terlihat pucat.

“Penderita harus menghabiskan obatnya. Kalau terkena segera ke puskesmas. Penanganannya gratis,” tutupnya.(Adit/adv/diskominfokaltim)

Editor: M Khaidir

Baca berita BusamID seputar Kaltim, Samarinda dan lainnya melalui Google News

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *